MAKALAH
PERENCANAAN
STRATEGIK PENDIDIKAN
PERENCANAAN
STRATEGI DIBIDANG AKADEMIK
Oleh :
ADI WIBOWO
NPM : 19510108
PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI
SEMARANG
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Lingkungan
pendidikan saat ini sangat kompetitif, hal ini menuntut lembaga pendidikan untuk membangun
keunggulan dan memutakhirkan peta perjalanan (roadmap) organisasi
secara berkelanjutan, menempuh langkah-langkah strategik dan mengerahkan serta
memusatkan kapabilitas dan komitmen seluruh staf dalam mewujudkan masa depan
organisasi. Kecenderungan umum, saat ini lembaga pendidikan hanya
mengandalkan anggaran tahunan sebagai alat perencana masa depan
organisasi, sehingga menjadi tidak koheren antara misi, visi, tujuan, rencana
jangka panjang, rencana
jangka pendek, serta
implementasinya. Selain itu, sistem
perencanaan pada
umumnya hanya mengikutsertakan sebagian kecil staf organisasi
untuk membangun masa depan organisasi.
Untuk itu, maka perencanaan
strategis merupakan solusi yang dapat diandalkan sebagai penentu masa depan
sebuah lembaga. Perencanaan strategis telah lama digunakan sebagai alat untuk
mentransformasi dan merevitalisasi lembaga bisnis, publik, dan non-profit.
Tujuan utamanya adalah untuk merespon kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan
lingkungan di masa depan. Perubahan tersebut sebagai akibat terjadinya
ketidaktentuan keadaan politik, ekonomi, tuntutan masyarakat, dan perubahan
teknologi yang terjadi secara cepat. Kesemuanya itu menuntut perubahan internal
dan eksternal organisasi agar bisa menjalankan kegiatan atau programnya secara
berkesinambungan.
Perencanaan strategik merupakan
suatu rencana jangka panjang yang bersifat menyeluruh, memberikan rumusan ke
mana lembaga akan diarahkan, dan bagaimana sumberdaya dialokasikan untuk
mencapai tujuan selama jangka waktu tertentu dalam berbagai kemungkinan keadaan
lingkungan. Selain itu, perencanaan strategik (Strategic Plans) juga
merupakan suatu proses pemilihan tujuan-tujuan organisasi, penentuan strategi,
kebijaksanaan, program-program strategi yang diperlukan untuk tujuan-tujuan
tersebut.
Dengan adanya perencanaan strategis
ini maka konsepsi suatu lembaga menjadi jelas sehingga akan memudahkan dalam
memformulasikan sasaran serta rencana-rencana lain dan dapat mengarahkan
sumber-sumber organisasi secara efektif. Sehingga dapat dikatakan bahwa
perencanaan strategi dapat menentukan keberhasilan organisasi atau perusahaan,
hal ini disebabkan karena :
1.
Perencanaan
strategi merupakan tipe perencanaan yang terpenting
2.
Melakukan
perencanaan strategi berarti menetapkan misi organisasi secara jelas
3.
Perencanaan
strategi memungkinkan pimpinan mempersiapkan diri terhadap kemungkinan
terjadinya perubahan pada lingkungan organisasinya.
Pendidikan merupakan komponen yang
memiliki peran yang strategis bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan tujuan
yang telah dirumuskan. Salah satu tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam
Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke empat adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan usaha yang terencana dan terprogram
dengan jelas dalam agenda pemerintahan yang berupa penyelenggaraan pendidikan.
Tujuan pendidikan Negara Indonesia
yang tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan
yang diperlukan diriya, masyarakat, bangsa dan negara. Agar kegiatan pendidikan
tersebut terencana dengan baik maka dibutuhkan kurikulum pendidikan.
Sekolah sebagai salah satu lembaga
pendidikan yang diberikan tugas untuk mewujdkan tujuan pendidikan nasional
harus menjalankan perannya dengan baik. Dalam menjalankan peran sebagai lembaga
pendidikan ini, sekolah harus dikelola dengan baik agar dapat mewujudkan tujuan
pendidikan yang telah dirumuskan dengan optimal. Pengelolaan sekolah yang tidak
profesional dapat menghambat proses pendidikan yang sedang berlangsung dan
dapat menghambat langkah sekolah dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga
pendidian formal.
Agar pengelolaan sekolah tersebut
dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan renccana strategis sebagai suatu
upaya/cara untuk mengendalikan organisasi (sekolah) secara efektif dan efisien,
sampai kepada kepada implementasi garis terdepan, sedemikian rupa sehingga
tujuan dan sasarannya tercapai. Perencanaan strategis merupakan landasan bagi
sekolah dalam menjalankan proses pendidikan. Komponen dalam perencanaan
strategis paling tidak terdiri dari visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi
(cara mencapai tujuan dan sasaran). Perumusan terhadap visi, misi, tujuan,
sasaran dan strategi tersebut harus dilakukan pengelola sekolah, agar sekolah
memiliki arah kebijakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan yang
diharapkan..
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang persoalan
yang telah diuraikan di atas, maka masalah dalam makalah ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1.
Apa
pengertian dari visi, misi dan strategi, dan visi?
2.
Bagaimana
implementasinya visi, misi dan strategi dalam dibidang akademik?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Dalam penyusunan tujuan pendidikan
kita mengacu pada tujuan pendidikan nasional yang terdapat pada undang-undang
No 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional
adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Visi, Misi, dan Strategik
1. Visi
Langkah penting dalam proses perencanaan strategis adalah
mengembangkan deskripsi yang jelas dan ringkas tentang organisasi atau
komunitas harus seperti apa ketika berhasil mengimplementasikan strateginya dan
mencapai seluruh potensinya. Deskripsi ini harus menjadi visi keberhasilan
organisasi. biasanya, visi keberhasilan ini lebih penting sebagai panduan untuk
mengimplementasikan strategi dan bukan memformulasikannya.
Sementara sedikit sekali organisasi publik dan nirlaba yang
mempunyai pernyataan misi yang jelas dan berguna. sebagian alasannya adalah
bahwa visi itu mencakup misi. Misi menguraikan tujuan organisasi, sedangkan
visi dapat dipakai untuk menggambarkan bagaimana organisasi harus terlihat
ketika organisasi bekerja baik (Lonnie, Helgeson, komunikasi Pribadi, 1986).
Visi adalah kondisi masa depan yang masih abstrak, tetapi
merupakan konsepsi yang dapat dibaca oleh setiap orang (Salusu, 1996:130). Ini
berarti visi merupakan suatu pikiran yang melampaui realitas sekarang, sesuatu
atau keadaan yang diciptakan yang belum ada sebelumnya dan akan diwujudkan oleh
seluruh anggota organisasi. Visi memberikan gambaran kondisi yang akan dicapai
oleh organisasi di masa yang akan datang, selanjutnya Bryson (1995:65)
mengemukakan bahwa sesungguhnya visi memberikan kerangka dasar tentang gambaran
organisasi di masa mendatang.
Visi menggambarkan akan menjadi apa suatu
organisasi di masa depan. Penetapan visi harus melihat kemampuan dan
keadaan internal organisasi. Semua organisasi, termasuk organisasi sekolah mempunyai
visi. Visi adalah agenda tujuan sebagai prestasi yang harus dicapai dalam
aktivitas sekolah. Sejalan dengan ituBeach (19930 mengemukakan proses
merumuskan visi dimulai dengan ide-ide kreatif atau dengan menciptakan ide-ide
baru dengan menggali tuntutan lingkungannya. Apabila visi telah dirumuskan
dengan baik dan sempurna, selanjutnya dirumuskan statemen misi dan statemen
misi dijadikan acuan menyusun rencana dan program sekolah. Qigley (1993:26)
mengemukakan visi adalah aspirasi yang akan dijadikan elemen fundamental dalam
pandangan organisasi dengan alasan yang jelas dan konsisten dengan nilai-nilai
sekolah. Visi terbentuk dengan kecerdasan penghayatan nilai-nilai, pengetahuan
dan pengalaman, kemampuan khusus yang konseptual, pemecahan maslah serta daya-daya
perilaku lain yang dijadikan unggulan.
Bertitik tolak pada pandangan tersebut, visi sekolah
haruslah konsisten dengan nilai dan daya-daya perilaku sekolah yang menjadi
ciri khas sekolah, stabil, berubah ke arah yang lebih baik, dan selalu menjadi
subjek evaluasi atas dasar kecerdasan penghayatan nilai-nilai moral, akademis,
ilmiah, dan sistematis dalam memecahkan berbagai problematika sekolah. Dengan
kata lain visi merupakan endapan dari suatu sistem nilai dan kaidah yang
diberlakukan.
Dalam sebuah lembaga organisasi, visi merupakan sarana untuk
:
a. Mengkomunikasikan alasan keberadaan
organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok
b. Memperhatikan frame work
hubungan antara organisasi dengan stekholders (Sumber daya manusia, konsumen, dan
pihak lain yang terkait)
c. Menyatakan sasaran utama kinerja
organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan
Untuk mampu menjadi gambaran yang ingin diwujudkan
suatu organisasi,pernyataan visi perlu diekspresikan dengan baik agar mampu
menjadi tema yang mempersatukan semua unit dan organisasi, menjadi media
komunikasi dan motivasi semua pihak, serta sebagai sumber kreativitas dan
inovasi organisasi. Oleh sebab itu, dalam perumusan dasar-dasar visi
keberhasilan sebaiknya :
1) Mengingat bahwa dalam banyak kasus,
visi keberhasilan tidak diperlukan untuk memperbaiki keefektifan organisasi.
Akan tetapi mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk menghadapi isu
strategis dapat merupakan hal yang dapat menghasilkan perbaikan kinerja
sebagian besar organisasi.
2) Sebelum visi keberhasilan muncul,
organisasi perlu merumuskan beberapa lingkaran atau langkah-langkah perencanaan
strategis sebelumnya.
3) Visi keberhasilan harus meliputi
item-item hasil yang diinginkan. Organisasi harus berpikir mengenai versi
dari visi sukses yang dipublikasikan dalam rencana strategis menjadi suatu hal
yang nyata.
4) Visi keberhasilan harus sebanyak
mungkin timbul dari keputusan dan tindakan yang lalu. keputusan dan tindakan
masa lampau seringkali menjadi catatan konsensus tentang bagaimana organisasi
itu dan harus mengerjakan apa. mendasarkan suatu visi pada konsensus yang telah
ada sebelumnya menghindarkan konflik yang tidak perlu. realisasi masa depan
baru akan lebih mudah jika masa depan itu adalah kelanjutan dari masa lampau
dan masa sekarang (Weick, 1979).
5) Suatu visi keberhasilan harus menjadi
sesuatu yang inspirasional.
Apa yang mengilhami orang adalah deskripsi yang jelas
mengenai masa depan yang diinginkan dengan didukung oleh keyakinan yang nyata.
Visi yang inspirasional memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. memfokuskan kepada masa depan yang
lebih baik
b. mendorong harapan dan impian
c. dibangun berdasarkan penafsiran
kembali sejarah dan budaya untuk menarik cita-cita dan nilai-nilai umum dari
organisasi
d. menjelaskan arah dan tujuan
organisasi
e. menyatakan hasil-hasil yang positif
f.
menekankan
keunikan dan kekhasan kompetensi organisasi
g. menekankan kekuatan kelompok yang
bersatu
h. menggunakan gambar, imaji, dan
metafora kata
i.
mengkomunikasikan
antusiasme dan kegembiraan yang menyala-nyala serta memupuk komitmen dan
dedikasi.
Visi keberhasilan yang efektif adalah yang mewujudkan
tingkat ketegangan yang tepat untuk mendorong perubahan organisasi yang
efektif. Satu cara yang berguna untuk mulai mengkonstruksikan visi keberhasilan
adalah mempunyai anggota tim perencanaan strategis sebagai individu yang
mempersiapkan rancangan visi, kemudian saling mengungkapkan dan mendiskusikan
respon mereka.
Suatu proses normatif harus digunakan untuk mengulas visi
keberhasilan. biasanya rancangan diulas oleh anggota tim perencanaan, para
pembuat keputusan lainnya, anggota dewan yang berkuasa, dan para stekeholder
luar yang terpilih.
Konsensus atau pernyataan visi di kalangan para pembuat keputusan
kunci sangat diperlukan, tetapi tidak diperlukan secara mutlak. Karena visi
keberhasilan membantu memandu keputusan dan tindakan organisasi, maka visi
keberhasilan harus disebarkan dan dibahas secara luas.
2. Misi
Secara umum misi menurut Sharplin (1985) adalah ‘alasan
keberadaan’, misi sebagai deskripsi tentang apa yang hendak dicapai dan untuk
siapa. Sementara itu Pearce dan Robinson (1988) menyebutkan bahwa misi
organisasi disebutkan sebagai tujuan fundamental dan unik yang menunjukkan
perbedaan suatu organisasi dengan organisasi lain yang sejenis dan
mengidentifikasi cakupan (scope) organisasinya. Bertitik tolak
dari pandangan tersebut misi adalah alasan bagi keberadaan sebuah organisasi,
dalam hal ini yaitu alasan keberadaan sekolah, karena itu sekolah sebagai
organisasi memiliki kebutuhan khusus untuk mengkomunikasikan misi dan
mengartikulasikan tujuan, target dan ukuran yang menjadi dasar penilaian
kinerjanya.
Misi sekolah adalah aspirasi kepala sekolah, wakil kepala
sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan masyarakat sekolah lainnya yang akan
dijadikan elemen fundamental penyelenggaraan program sekolah dalam pandangan
sekolah dengan alasan yang jelas dan konsisten dengan nilai-nilai sekolah.
Kotler (1987) mengatakan bahwa misi adalah pernyataan
tentang tujuan organisasi yang diekspresikan dalam produk dan pelayanan yang
dapat ditawarkan, kebutuhan yang dapat ditanggulangi, kelompok masyarakat yang
dilayani, nilai-nilai yang dapat diperoleh, serta aspirasi dan cita-cita di
masa depan.
Dari pengertian tersebut, tampaknya ada lima unsur penting
yang tidak dapat dilupakan dalam merumuskan misi suatu organisasi, yaitu:
1. Produk apa atau pelayanan apa yang
akan ditawarkan. Apakah itu pendidikan anak-anak, pendidikan tinggi, dan
lain-lain.
2. Apakah produk atau pelayanan yang
ditawarkan itu dapat memenuhi kebutuhan tertentu yang memang diperlukan dan
bahkan dicari karena belum tersedia selama
3. Misi harus secara tegas menyatakan
publik mana yang akan dilayani.
4. Bagaimana kualitas barang atau
pelayanan yang hendak ditawarkan.
5. Aspirasi apa yang diinginkan di masa
yang akan datang.
Unsur-unsur misi tersebut selayaknya dinyatakan sebagai
keyakinan untuk sungguh-sungguh dilaksanakan oleh organisasi, tidak hanya
sebagai semboyan tanpa makna. Oleh karena banyak hal yang perlu diketahui oleh
masyarakat yang dilayani, rumusan misi tidak dapat terdiri dari satu kalimat
atau pernyataan singkat saja.
Misi merupakan “alat yang tak ternilai” untuk mengarahkan
perumusan strategi dan pelaksanaan strategi. Ia merupakan fondasi yang konstan
dalam pengambilan keputusan strategik. Ia bahkan adalah common thread yang
menyatakan seluruh aktivitas organisasi (Wheelen dan Hunger, 1990).
Misi disebut raison d’etre-nya organisasi, yaitu
yang merupakan alasan kehadirannya, pembenaran tentang eksistensinya (Higgins,
1995). Misi sebenarnya menjelaskan hal-hal yang sangat fundamental, merupakan
falsafah dasar dari organisasi, sebagai pendorong lahirnya inspirasi-inspirasi
yang penuh motivasi. Misi juga penting karena suatu perumusan tujuan dan
sasaran yang realistik hanya mungkin dilakukan jikalau terlebih dahulu misi
organisasi sudah diidentifikasi.
Merumuskan misi organisasi terkadang dianggap mudah, tetapi
kesulitannya lebih banyak ketimbang gampangnya. para pengambil keputusan
strategik sering mampu merumuskan misi itu dengan baik, tetapi segera timbul
kesulitan dalam mengkoordinasikan tindakan-tindakan manajerial. Inilah peranan
kritis dari berbagai organisasi karena banyak organisasi yang gagal merealisasikan
misinya. Misi, karenanya harus mendarat lebih dahulu dalam hati semua orang
yang bekerja dalam organisasi itu. Jadi apabila dikatakan bahwa salah satu misi
dalam lembaga pendidikan adalah meningkatkan kualitas, maka seharusnya semua
orang yang terlibat dalam proses itu memahami sungguh-sungguh apa yang dimaksud
dengan meningkatkan kualitas itu dan senantiasa berusaha menuju ke sana,
sementara manajemen puncak harus pula komit untuk mempertahankan tekad itu.
Terkait dengan hal tersebut, pada dasarnya misi dibuat untuk
jangka waktu tiga sampai lima tahun dan dapat berubah. perubahan itu bisa
dilakukan jikalau terjadi perubahan penting dalam lingkungan, misalnya ada
peluang yang harus dikejar, ada ancaman, atau tantangan yang sangat berarti.
Bisa juga terjadi perubahan apabila manajemen baru menghendakinya. Misi juga
dapat bertahan bertahun-tahun tanpa ada perubahan, yaitu jika kondisi
lingkungan dan pihak-pihak terkait masih menghendaki demikian. Jadi misi
bukanlah dogma yang tidak bisa berubah.
3. Perencanaan Strategis
Perencanaan adalah susunan (rumusan) sistematik mengenai
langkah (tindakan-tindakan) yang akan
dilakukan dimasa depan, dengan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang
seksama atas potensi, factor-faktor eksternal dan pihak-pihak yang berkepentingan
dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Dalam pengertian ini termuat hal-hal
yang merupakan prinsip perencanaan, yakni :
a. Apa yang akan dilakukan yang
merupakan jabaran dari visi dan misi
b. Bagaimana mencapai hal tersebut
c. Siapa yang akan melakukan
d. Lokasi aktivitas
e. Kapan akan dilakukan, berapa lama
f.
Sumber
daya yang dibutuhkan
Tjokromidjojo (1992,12) mendefinisikan perencanaan sebagai
suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya (maximum output) dengan
sumber-sumber yang ada supaya lebih efisien dan efektif. Selanjutnya dikatakan
bahwa perencanaan merupakan penentuan tujuan yang akan dicapai atau yang akan
dilakukan, bagaimana, bilamana dan oleh siapa.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
perencanaan adalah langkah tentang apa yang akan dilakukan dan dilaksanakan
oleh seseorang atau organisasi tentang apa yang akan dicapai pada masa yang
akan datang.
Sedangkan strategi adalah suatu cara yang dilakukan oleh
seseorang atau suatu organisasi untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan
dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki.
Menurut Lynch dalam Wibisono (2006, p. 50-51), Strategi
perusahaan merupakan pola atau rencana yang mengintegrasikan tujuan utama atau
kebijakan perusahaan dengan rangkaian tindakan dalam sebuah pernyataan yang
saling mengikat.
Bryson (2008: 23) mengemukakan bahwa
perencanaan strategi adalah sebagai upaya yang didisiplinkan untuk membuat
keputusan dan tindakanpenting yang membentuk dan
mengarahkan bagaimana suatu organisasi atauentitas
lainnya, apa yang akan dikerjakan
organisasi atau entitas lainnya dan mengapa organisasi
(entitas lainnya) mengerjakan seperti itu. Bryson (2008:55) membagi proses
perencanaan strategik menjadi sepuluh langkah, yang mengarah kepada tindakan,
hasil, dan evaluasi adalah:
1) Memrakarsai dan menyepakati suatu
proses perencanaan strategis. Tujuan langkah pertama adalah menegosiasikan
kesepakatan dengan orang-orang penting pembuat keputusan (decision
makers) atau pembentuk opini (opinion leaders) internal
dan eksternal tentang seluruh upaya perencanaan strategis dan langkah
perencanaan yang terpenting.
2) Memperjelas mandat organisasi.
Mandat formal dan informal yuang ditempatkan pada organisasi adalah keharusan
yang dihadapi organisasi.
3) Memperjelas misi dan nilai-nilai
organisasi. Misi organisasi yang berkaitan erat dangan mandatnya,
menyediakan raison de’etre-nya, pembenaran sosial bagi
keberadaannya, mengurangi konflik, dan merencanakan masa depan.
4) Menilai lingkungan eksternal. Tim
perencanaan harus mengeksplorasi lingkungan di lingkungan organisasi untuk
mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi organisasi.
5) Menilai lingkungan internal. Untuk
mengetahui kekuasaan dan kelemahan internal, organisasi dapat memantau sumber
daya (inputs), strategi sekarang (process), dan
kinerja (outputs).
6) Mengidentifikasi isu strategis yang
dihadapi organisasi. Lima unsur pertama dari proses secara bersamaan melahirkan
unsur keenam, identifikasi isu strategis persoalan kebijakan penting yang
mempengaruhi mandat, misi, dan nilai-nilai dalam organisasi.
7) Merumuskan strategi untuk mengelola
isu-isu. strategi didefinisikan sebagai pola tujuan, kebijakan, program,
tindakan, keputusan, atau alokasi sumber daya yang menegaskan bagaimana
organisasi, apa yang dikerjakan organisasi, mengapa organisasi harus mengerjakan
hal itu. Strategi dapat berbeda karena tingkat, fungsi, dan kerangka waktu.
8) Menciptakan visi organisasi yang
efektif untuk masa depan. langkah terakhir dalam proses
p erencanaan, organisasi mengembangkan deskripsi mengenai bagaimana
seharusnya organisasi itu sehingga berhasil mengimplementasikan strateginya dan
mencapai seluruh potensinya. Deskripsi tersebut merupakan visi keberhasilan.
9) Mengembangkan proses implementasi.
Proses implementasi adalah inti dari seluruh perencanaan yang dibuat. Bagaimana
strategi dijalankan sesuai dengan rencana untuk mencapai tujuan organisasi.
10) Menilai kembali strategi dan proses
perencanaan strategis. Setelah seluruh langkah dijalankan, maka yang terakhir
adalah menilai kembali strategi dan proses perencanaan untuk perbaikan
organisasi di masa mendatang.
Terkait dengan strategi, dalam
manajemen strategis terdapat
tiga tahap yang signifikan dalam upaya mencapai tujuan, yaitu:
1) Formulasi strategi, termasuk
mengembangkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal
perusahaan, menentukan kekuatan dan kelemahan internal, menetapkan tujuan
jangka panjang, merumuskan alternatif strategi dan memilih strategi tertentu
yang akan dilaksanakan.
2) Implementasi strategi, mensyaratkan
perusahaan untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi
karyawan, dan mengalokasikan sumber daya sehingga strategi yang telah
doformulasikan dapat dijalankan. Melaksanakan strategi berarti memobilisasi
karyawan.
3) Evaluasi strategi, adalah tahap
final dalam manajemen strategis.Tiga aktivitas dasar evaluasi adalah:
meninjau ulang factor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi saat
ini, mengukur kinerja, dan mengambil tinadakan korektif.
Dengan merujuk pada pandangan Dan Schendel dan Charles
Hofer, Higgins (1985) menjelaskan adanya empat tingkatan
strategi, yaitu:
1) Enterprise Strategy
Strategi ini berkaitan dengan respon masyarakat. Setiap
organisasi mempunyai hubungan dengan masyarakat. Masyarakat adalah kelompok
yang berada di luar organisasi yang tidak dapat dikontrol. Jadi dalam strategi
enterprise terlihat relasi antara organisasi dan masyarakat luar, sejauh
interaksi itu akan dilakukan sehingga dapat menguntungkan organisasi. Strategi
itu juga menampakkan bahwa organisasi sungguh-sungguh bekerja dan berusaha
untuk memberi pelayanan yang baik terhadap tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
2) Corporate Strategy
Strategi ini berkaitan dengan misi organisasi, sehingga
sering disebut Grand Strategy yang meliputi bidang yang
digeluti oleh suatu organisasi.
3) Business Strategy
Strategi pada tingkat ini menjabarkan bagaimana merebut
pasaran di tengah masyarakat. Bagaimana menempatkan organisasi di hati para
penguasa, para pengusaha dan sebagainya. Semua itu dimaksudkan untuk dapat
memperoleh keuntungan-keuntungan stratejik yang sekaligus mampu menunjang
berkembangnya organisasi ke tingkat yang lebih baik.
4) Functional Strategy
Strategi ini merupakan strategi pendukung dan untuk
menunjang suksesnya strategi lain. Ada tiga jenis strategi functional yaitu:
1) Strategi functional ekonomi yaitu
mencakup fungsi-fungsi yang memungkinkan organisasi hidup sebagai satu kesatuan
ekonomi yang sehat, antara lain yang berkaitan dengan keuangan, pemasaran,
sumber daya, penelitian dan pengembangan.
2) Strategi functional manajemen, mencakup fungsi-fungsi manajemen yaitu
planning, organizing, implementating,
controlling, staffing, leading, motivating, communicating, decision
making, representing, dan integrating.
3) Strategi isu stratejik, fungsi
utamanya ialah mengontrol lingkungan, baik situasi lingkungan yang sudah
diketahui maupun situasi yang belum diketahui atau yang selalu berubah.
Tingkat-tingkat
strategi itu merupakan kesatuan yang bulat dan menjadi isyarat bagi setiap
pengambil keputusan tertinggi bahwa mengelola organisasi tidak boleh dilihat
dari sudut kerapian administratif semata, tetapi juga hendaknya memperhitungkan
soal “kesehatan” organisasi dari sudut ekonomi.
Tipe-Tipe
Strategi
Tipe-tipe strategi pada dasarnya sama dengan tingkat-tingkat
strategi, hanya perbedaan istilah penggunaannya saja. Menurut Koteen (1991),
terdapat tipe-tipe strategi, yaitu:
1) Corporate strategy (strategi organisasi)
strategi
ini berkaitan dengan perumusan misi, tujuan, nilai-nilai, dan
inisiatif-inisiatif strategik yang baru. pembatasan-pembatasan dilakukan,
yaitu apa yang dilakukan dan untuk siapa.
2) Program strategy (strategi program)
strategi
ini lebih memberi perhatian pada implikasi-implikasi strategik dari suatu
program tertentu.
3) Resource support strategy (strategi pendukung sumber
daya)
Strategi
sumber daya ini memusatkan perhatian pada memaksimalkan pemanfaatan
sumber-sumber daya esensial yang tersedia guna meningkatkan kualitas kinerja
organisasi.
4) Institusioanal strategy (strategi kelembagaan)
Fokus
dari strategi institusonal ialah mengembangkan kemampuan organisasi untuk
melaksanakan inisiatif-inisiatif strategik.
Strategi adalah sebuah rencana yang komprehensif mengintegrasikan
segala resources dan capabilities yang
mempunyai tujuan jangka panjang untuk memenangkan kompetisi. implementasi
stargtegi dalam manajeman sekolah melibatkan upaya besar yang bertujuan
mentransformasi tujuan strategik ke dalam aksi yaitu penyelengggaraan program
sekolah. betapa pun hebatnya suatu strategi bila tidak diimplementasikan tentu
saja strategi itu tidak akan bermakna bagi pengembangan sekolah.
Setiap lembaga pendidikan (dalam hal ini sekolah) memiliki
rencana strategis yang menghubungkan antara situasi sekolah tahun ini dengan
situasi sekolah lima tahun ke depan dengan memperhatikan aspek-aspek pemerataan
mutu, efisiensi, relevansi, dan tata kelola. dengan demikian seluruh tindakan
atau program yang direncanakan dapat terstruktur dan terevaluasi dengan baik.
B. Implementasi Formulasi Visi, Misi,
dan Strategi Dalam Perencanaan Strategik Bidang Pendidikan
Visi merupakan suatu proses yang
menggambarkan serangkaian kegiatan perencanaan dan penetapan sasaran sekolah
secara formal. Dan misi adalah alasan keberadaan suatu lembaga. Untuk
mewujudkan visi, maka dibutuhkan misi. Strategi adalah sebuah rencana yang
komprehensif mengintegrasikan segala resources dan capabilities yang
mempunyai tujuan jangka panjang untuk memenangkan kompetisi. Implementasi
startegi dalam manajeman sekolah melibatkan upaya besar yang bertujuan
mentransformasi tujuan strategik ke dalam aksi yaitu penyelengggaraan program
sekolah. Betapa pun hebatnya suatu visi, misi, dan strategi bila tidak
diimplementasikan tentu saja strategi itu tidak akan bermakna bagi pengembangan
sekolah.
Karena itu, kemampuan kepala sekolah
dan personel sekolah lainnya mengimplementasikan suatu strategi dalam manajemen
sekolah merupakan hal yang sangat penting dalam kaitannya dengan skill
kepala sekolah sebagai seorang pemimpin dan guru sebagai tenaga profesional
yang bertanggung jawab terhadap kemempuan belajar peserta didik. Kenyataannya
implementasi strategi khususnya di sekolah tidak mudah dilakukan. umumnya
sekolah terjebak pada kegiatan yang bersifat rutin yaitu guru masuk kelas
memberikan pelajaran pendekatannya sama seperti sebelumnya, melaksanakan ujian,
memberikan nilai dan hasil ujian dan akhirnya peserta didik lulus dengan
kualitas seadanya.
Tiga elemen manajemen strategik,
yaitu analisis strategi, formulasi strategi, dan implementasi strategi, yang
paling sulit untuk dilakukan adalah implementasi strategi. Sebagaimana yang
diungkapkan oleh Miller (1996:329) “it has been rather easy for us ti
decide where we wanted to go. The hard part is to get the organization to act
on the new priorities.” Strategi akan cukup mudah bagi kita untuk
menentukan kemana kita mencari bagian tersulit mendapatkan organisasi pada
tindakan prioritas yang baru. Proses implementasi strategi manajemen sekolah
meliputi keseluruhan kegiatan manajerial yang mencakup keadaan seperti
motivasi, kompensasi,dan penghargaan manajemen.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
paparan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal, antara lain:
1. Langkah awal dari strategy formulation sebagai
tahapan dalam perencanaan strategis menurut Bryson adalah penetapan visi, misi,
dan strategi
2. Visi merupakan kerangka tentang
gambaran organisasi di masa mendatang yang penetapannya didasarkan pada
kemampuan dan keadaan internal organisasi.
3. Misi adalah pernyataan tentang
tujuan organisasi yang diekspresikan dalam produk dan pelayanan yang dapat
ditawarkan, kebutuhan yang dapat ditanggulangi, kelompok masyarakat yang
dilayani, nilai-nilai yang dapat diperoleh, serta aspirasi dan cita-cita di
masa depan atau dengan kata lain, misi adalah guidelines dari
visi organisasi.
4. Strategi adalah suatu seni
menggunakan kecakapan dan sumber daya suatu organisasi untuk mencapai
sasarannya melaui hubungannya yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang
paling menguntungkan
5. Manajemen strategik memiliki tiga
elemen dasar, yaitu analisis strategi, formulasi strategi, dan implementasi
strategi. Dan yang paling sulit untuk dilakukan adalah implementasi strategi.
Implementasi startegi dalam manajeman sekolah melibatkan upaya besar yang
bertujuan mentransformasi tujuan strategik ke dalam aksi yaitu penyelengggaraan
program sekolah.
B.
Saran
Dalam
pembuatan makalah ini, sangat banyak kekurangan yang terdapat dalam
penyusunannya. Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi dengan adanya kritik
dan saran untuk mengembangkan dan memperbaiki kualitas dari makalah kami
DAFTAR PUSTAKA
http://tejapendidikan.blogspot.com/2015/08/makalah-manajemendan-pendidikan.html
http://repository.upi.edu/16591/4/T_ADP_1202144_Chapter1.pdf
https://pengajar.co.id/strategi/
http://hartokambaton.blogspot.co.id/2012/04/makalahperencanaan-pendidikan-arti-dan.html
http://zuniaervin.blogspot.co.id/2014/11/perencanaan-pendidikan.html
http://amrianihamzah.blogspot.co.id/2011/11/mendefinisikan-permasalahan-perencanaan.html