MAKALAH
“
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN”
Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Sistem informasi Manajemen
Disusun oleh :
ADI WIBOWO NPM 19510108
Dosen Pengampu :
Dr. Ngurah Ayu Nyoman M. M. Pd
UNIVERSITAS
PGRI SEMARANG
PROGRAM
STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
limpahan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“SIM” dengan baik tanpa ada suatu halangan
yang berarti.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada
Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, karena beliaulah yang telah membawa Agama
Islam sampai kepada muka bumi.
Tak lupa penulis juga mengucapkan terimakasih kepada :
1.
Dr. Ngurah Ayu Nyoman M. M, M. Pd yang telah memberikan tugas, yang
mana dalam menggarap makalah ini penulis memperoleh banyak informasi dan
pengetahuan tentang “SIM” yang berasal
dari banyak sumber yang penulis
kumpulkan dalam penggarapan makalah ini.
2.
Rekan
rekan yang telah memberikan bantuan kepada penulis baik itu materiil maupun non
materiil sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan, agar dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat lebih baik.
Mudah-mudaan makalah ini dapat bermanfaat untuk pembaca sekalian.
Demikian yang dapat penulis
sampaikan apabila ada kekeliruaan dalam penulis maupun penyampaian bahasa
penulis minta maaf.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Sistem Informasi Manajemen
Pendidikan (SIMDIK)
adalah sebuah sistem informasi untuk kebutuhan manajemen lembaga pendidikan
dalam hal ini adalah sekolah, yaitu TK, SD, SMP, dan SMA. SIMDIK dikembangkan
secara terpadu dimulai dari proses operasional pendaftaran siswa baru, proses
akademik, pengelolaan keuangan, sampai operasional siswa menjadi alumni.
SIMDIK merupakan proses operasional
sekolah. SIMDIK juga dirancang sesuai dengan standar JARDIKNAS. Segala
kebutuhan pelaporan dari sekolah ke Dinas Pendikan Daerah maupun untuk
kebutuhan Depdiknas dapat dilakukan dengan mudah. Dengan adanya SIMDIK
manajemen pendidikan menjadi lebih mudah dan terkontrol
Dalam menghadapi globalisasi, sistem
informasi semakin dibutuhkan oleh lembaga pendidikan, khususnya dalam
meningkatkan kelancaran aliran informasi dalam lembaga pendidikan, kontrol
kualitas, dan menciptakan aliansi atau kerja sama dengan pihak lain yang dapat
meningkatkan nilai lembaga pendidikan tersebut.
B.
Rumusan
Masalah
Dari latar belakang tersebut, maka dalam makalah ini penulis dapat merumuskannya menjadi
beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.
Pengertian
dan Ruang Lingkup Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (SIMDIK)
2.
Tujuan
dan Keunggulan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (SIMDIK)
- Bagaimana
Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen Pendidikan?
- Bagaimana
Proses Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan?
- Bagaimana
dampak implementasi sistem informasi manajemen pendidikan terhadap
etika dan sosial?
C.
Tujuan Pembahasan
- Untuk
mengetahui pengertian dan ruang lingkup Sistem Informasi Manajemen
Pendidikan
- Untuk
mengetahui tujuan dan keunggulan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan
- Untuk
mengetahui konsep dasarSistem Informasi Manajemen Pendidikan
- Untuk
mengetahui Proses pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan
- Untuk
mengetahui dampak impelementasi Sistem Informasi Pendidikan
terhadap etika dan sosial
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Manajemen Sekolah
Manajemen
Sekolah terbentuk dari dua kata manajemen dan Sekolah. Manajemen Sekolah
mempunyai pengertian yang hampir sama dengan manajemen pendidikan, hanya saja
lingkupnya jauh lebih kecil dari pada manajemen pendidikan. Manajemen sekolah
terbatas pada satu sekolah saja sedangkan manajemen pendidikan meliputi seluruh
komponen sistem pendidikan.
Manajemen
sering diartikan sebagai ilmu, kiat, dan profesi. Dikatakan sebagai ilmu,
menurut Luther Gulick (dalam Sagala, 2011: 50) karena manajemen dipandang
sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematis berusaha memahami
mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Dikatakan sebagai kiat menurut Foller
(dalam Sagala, 2011: 51) karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara
dengan mengatur orang lain dalam menjalankan tugas. Sedangakan dikatakan
sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai
suatu prestasi manejer dan para profesionalnya dituntun oleh suatu kode etik
(Sagala, 2006: 13).
Management
as the process of working with and through individuals and groups and other
resources (such as equipment, capital, and technology) to accomplish organizational
goal (Hersey, 2008: 5).
Menurut Stoner Manajemen secara umum
yang dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota
organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Berdasarkan
uraian di atas, yang dimaksud manajemen dalam penelitian ini adalah kiat yang
dimiliki oleh seorang pemimpin untuk mengimplimentasikan kebijakan manajemen
sekolah SSN dengan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan dan mengawasi
sumber daya yang ada sehingga menghasilkan hasil yang optimal
Sedangkan dalam konteks sekolah
yaitu Manajemen sekolah menurut buku manajamen sekolah sebenarnya merupakan
aplikasi ilmu manajemen dalam bidang persekolahan. Ketika istilah manajemen
diterapkan dalam bidang pemerintahan akan menjadi manajemen pemerintahan, dalam
bidang pendidikan menjadi manajemen pendidikan, begitu seterusnya.
Sedangkan menurut James Jr.
manajemen sekolah adalah proses pendayagunaan sumber-sumber manusiawi bagi
penyelenggara sekolah secara efektif. Sedangkan dalam konteks pendidikan ada
juga manajemen pendidikan.
Menurut
Saudagar, (2011:141) manajemen sekolah adalah bagaimana substansi-substansi
pendidikan di suatu sekolah dapat berjalan dengan tertib, lancar dan
benar-benar terintegrasi dalam suatu sistem kerja sama untuk mencapai tujuan
secara efektif dan efisien
Menurut
Rohiat, (2012:31) manajemen sekolah adalah suatu kegiatan yang memiliki
filosofis tinggi, ia harus mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efesien
pada hakikatnya upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan performansi sekolah
dalam mencpai tujuan-tujuan pendidikan, baik tujuan nasional maupun lokal
institusional, keberhasilan pencapaian tersebut tampak dari beberapa faktor
sebagai indikator kinerja yang berhasil dicapai oleh sekolah.
Kepala
sekolah selaku manajer dan pimpinan perlu mulai dengan tujuan dalam pikiran
artinya memulai dengan suatu pemahaman yang jelas tentang tujuan manajemen
sekolah dan mengatahui apa yang harus dikerjakan serta dapat mencapai tujuan
dengan jelas.
Berdasarkan
definisi di atas, dapat disebutkan bahwa manajemen sekolah merupakan proses di
mana kepala sekolah selaku administrator bersama atau melalui orang lain
berupaya mencapai tujuan institusional sekolah secara efisien.
Apabila
definisi tersebut dikaji secara saksama, terdapat makna tersirat berkenaan
dengan konsep manajemen sekolah yaitu penyelenggaraan pendidikan bertujuan
untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, mengembanggkan potensi peserta didik agar jadi anggota masyarakat
yang bertanggung jawab dan demokratiif, dan mengikuti pendidikan yang lebih
lanjut
B.
Urgensi Manajemen Sekolah
Sekolah
sebagai lembaga pendidikan formal berperan besar dalam pembentukan karakter
manusia ke arah yang lebih baik. Sekolah sebagai sebuah sistem yang tediri dari
input, proses dan output, dimana inputnya adalah manusia (man), uang (maney),
metode (methods), pasar (markets) dan bahan-bahan (materials).
Sementara prosesnya adalah mendayagunakan segala sumber daya yang ada (input)
secara optimal guna mencapai output atau hasil yang maksimal. Inilah sistem.
Berpandangan sistem selalu menekankan pada kesatuan kerja antara satu bagian
dengan bagian lainnya yang membentuk mata rantai. Ketika satu bagian saja tidak
berjalan dengan baik maka akan bepengaruh pada bagian lainnya. Layaknya organ
tubuh manusia ketika tangan tergores oleh sembilu maka organ tubuh yang lainnya
juga akan merasa.
Oleh
karena itu, berangkat dari pemahaman di atas dapat dikatakan bahwa keberhasilan
sistem pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh pengelolaan yang efektif
dan efisien. Dengan pengelolaan yang efektif dan efisien diharapkan bisa
menggerakan segala bagian sesuai fungsinya masing-masing, dengan kata lain
tidak ada yang tidak bermanfaat semuanya berfungsi.
Prinsip
efektif dan efisien merupakan ruh dalam pengelolaan atau bahasa ilmiahnya
adalah manajemen. Agar sekolah bisa melaksanakan prinsip tersebut maka perlu
menerapkan fungsi-fungsi manajemen dalam penyelenggaran pendidikan di sekolah.
Menurut George R. Terry ada beberapa fungsi manajemen diantaranya sering
disingkat menjadi POAC (planning, organizing, actuating dan controlling).
C.
Hubungan
Antara Manajemen Sekolah dengan SISDIKNAS
Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS) dijamin oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Pasal 51 ayat (1) “pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar
pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. Dengan
demikian, prinsip Manajemen Berbasis Sekolah secara tegas dinyatakan dalam UU
Nomor 20 Tahun 2003 sebagai prinsip dalam pengelolaan pendidikan baik untuk
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20
Tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk diterapkannya Manajemen
Berbasis Sekolah atau School-Based Management dan Pendidikan
Berbasis Masyarakat atau Community-Based Education. Gagasan-gagasan
berdasarkan hasil studi, baik di luar maupun di dalam negeri, tentang effective
schools (sekolah yang efektif) yang hanya mungkin direalisasikan kalau
Manajemen Berbasis Sekolah diterapkan, serasa memperoleh peluang dalam suasana
reformasi di bidang pendidikan dengan tema otonomi pedagogis sehingga turut
mendorong diperkenalkannya MBS di Indonesia.
D.
Fungsi-fungsi
organic Manajemen Sekolah
Dikemukakan di atas bahwa manajemen
pendidikan merupakan suatu kegiatan. Kegiatan dimaksud tak lain adalah
tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan
fungsi-fungsi manajemen ini menurut beberapa ahli, sebagai berikut:
Menurut G.R. Terry terdapat empat
fungsi manajemen, yaitu : (1) planning (perencanaan); (2) organizing
(pengorganisasian); (3) actuating (pelaksanaan); dan (4) controlling
(pengawasan).
Sedangkan menurut Henry Fayol
terdapat lima fungsi manajemen, meliputi : (1) planning (perencanaan); (2)
organizing (pengorganisasian); (3) commanding (pengaturan); (4) coordinating
(pengkoordinasian); dan (5) controlling (pengawasan).
Sementara itu, Harold Koontz dan
Cyril O’ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, mencakup : (1) planning
(perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) staffing (penentuan
staf); (4) directing (pengarahan); dan (5) controlling (pengawasan).
Selanjutnya, L. Gullick mengemukakan
tujuh fungsi manajemen, yaitu : (1) planning (perencanaan); (2) organizing
(pengorganisasian); (3) staffing (penentuan staf); (4) directing (pengarahan);
(5) coordinating (pengkoordinasian); (6) reporting (pelaporan); dan (7)
budgeting (penganggaran).
Untuk memahami lebih jauh tentang
fungsi-fungsi manajemen pendidikan, di bawah akan dipaparkan tentang
fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam perspektif persekolahan, dengan
merujuk kepada pemikiran G.R. Terry, meliputi : (1) perencanaan (planning); (2)
pengorganisasian (organizing); (3) pelaksanaan (actuating) dan (4) pengawasan
(controlling).
1.
Perencanaan
(planning)
Perencanaan tidak lain merupakan
kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk
mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan
David L. Kurtz (1984) bahwa: planning may be defined as the proses by
which manager set objective, asses the future, and develop course of action
designed to accomplish these objective. Sedangkan T. Hani Handoko (1995)
mengemukakan bahwa : “ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan
tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program,
prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.”
Arti penting perencanaan terutama
adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan
dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani
Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan: (a)
membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
lingkungan; (b) membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah
utama; (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran; (d) membantu
penempatan tanggung jawab lebih tepat; (e) memberikan cara pemberian perintah
untuk beroperasi; (f) memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai
bagian organisasi; (g) membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah
dipahami; (h) meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan (i) menghemat waktu,
usaha dan dana.
Indriyo Gito Sudarmo dan Agus
Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu :
1.
Penentuan
tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a) menggunakan kata-kata
yang sederhana, (b) mempunyai sifat fleksibel, (c) mempunyai sifat stabilitas,
(d) ada dalam perimbangan sumber daya, dan (e) meliputi semua tindakan yang
diperlukan.
2.
Pendefinisian
gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber
daya alam, dan sumber daya modal.
3.
Merumuskan
kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas.
Hal senada dikemukakan pula oleh T.
Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : (a)
menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c)
mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau
serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.
Pada bagian lain, Indriyo Gito
Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan bahwa atas dasar luasnya cakupan
masalah serta jangkauan yang terkandung dalam suatu perencanaan, maka
perencanaan dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu : (1) rencana global yang
merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka panjang, (2) rencana
strategis merupakan rencana yang disusun guna menentukan tujuan-tujuan kegiatan
atau tugas yang mempunyai arti strategis dan mempunyai dimensi jangka panjang,
dan (3) rencana operasional yang merupakan rencana kegiatan-kegiatan yang
berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan jangka panjang, baik dalam
perencanaan global maupun perencanaan strategis.
Perencanaan strategik akhir-akhir
ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan lingkungan yang sangat
pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti perkembangan teknologi yang
sangat pesat, pekerjaan manajerial yang semakin kompleks, dan percepatan
perubahan lingkungan eksternal lainnya. Pada bagian lain, T. Hani Handoko
memaparkan secara ringkas tentang langkah-langkah dalam penyusunan perencanaan
strategik, sebagai berikut:
1.
Penentuan
misi dan tujuan, yang mencakup pernyataan umum tentang misi, falsafah dan
tujuan. Perumusan misi dan tujuan ini merupakan tanggung jawab kunci manajer
puncak. Perumusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer.
Nilai-nilai ini dapat mencakup masalah-masalah sosial dan etika, atau
masalah-masalah umum seperti macam produk atau jasa yang akan diproduksi atau
cara pengoperasian perusahaan.
2.
Pengembangan
profil perusahaan, yang mencerminkan kondisi internal dan kemampuan perusahaan
dan merupakan hasil analisis internal untuk mengidentifikasi tujuan dan
strategi sekarang, serta memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya -sumber
daya perusahaan yang tersedia. Profil perusahaan menunjukkan kesuksesan
perusahaan di masa lalu dan kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan
sebagai implementasi strategi dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang.
3.
Analisa
lingkungan eksternal, dengan maksud untuk mengidentifikasi cara-cara dan dalam
apa perubahan-perubahan lingkungan dapat mempengaruhi organisasi. Disamping
itu, perusahaan perlu mengidentifikasi lingkungan lebih khusus, seperti para
penyedia, pasar organisasi, para pesaing, pasar tenaga kerja dan
lembaga-lembaga keuangan, di mana kekuatan-kekuatan ini akan mempengaruhi
secara langsung operasi perusahaan.
Meski pendapat di atas lebih
menggambarkan perencanaan strategik dalam konteks bisnis, namun secara esensial
konsep perencanaan strategik ini dapat diterapkan pula dalam konteks
pendidikan, khususnya pada tingkat persekolahan, karena memang pendidikan di
Indonesia dewasa ini sedang menghadapi berbagai tantangan internal maupun
eksternal, sehingga membutuhkan perencanaan yang benar-benar dapat menjamin
sustanabilitas pendidikan itu sendiri.
2.
Pengorganisasian
(organizing)
Fungsi manajemen berikutnya adalah
pengorganisasian (organizing). George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa
: “Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan
yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara
efisien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas
tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran
tertentu”.
Lousie E. Boone dan David L. Kurtz
(1984) mengartikan pengorganisasian : “… as the act of planning and
implementing organization structure. It is the process of arranging people and
physical resources to carry out plans and acommplishment organizational
obtective”.
Dari kedua pendapat di atas, dapat
dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi
rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Hal
yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap
kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa
targetnya.
Berkenaan dengan pengorganisasian
ini, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam organisasi,
diantaranya adalah: (a) organisasi harus profesional, yaitu dengan pembagian
satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan; (b) pengelompokan satuan kerja harus
menggambarkan pembagian kerja; (c) organisasi harus mengatur pelimpahan
wewenang dan tanggung jawab; (d) organisasi harus mencerminkan rentangan
kontrol; (e) organisasi harus mengandung kesatuan perintah; dan (f) organisasi
harus fleksibel dan seimbang.
Ernest Dale seperti dikutip oleh T.
Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam proses pengorganisasian, yaitu :
(a) pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan
organisasi; (b) pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang
logik dapat dilaksanakan oleh satu orang; dan (c) pengadaan dan pengembangan
suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan
yang terpadu dan harmonis.
3.
Pelaksanaan
(actuating)
Dari seluruh rangkaian proses
manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling
utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan
dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru
lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang
dalam organisasi
Dalam hal ini, George R. Terry
(1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan
anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan
berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota
perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai
sasaran-sasaran tersebut.
Dari pengertian di atas, pelaksanaan
(actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan
menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar
setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran,
tugas dan tanggung jawabnya.
Hal yang penting untuk diperhatikan
dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan
termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika : (1) merasa yakin akan mampu
mengerjakan, (2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi
dirinya, (3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang
lebih penting, atau mendesak, (4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi
yang bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut
harmonis.
4.
Pengawasan
(controlling)
Pengawasan (controlling) merupakan
fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua
fungsi terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam
hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang
pengawasan sebagai : “… the process by which manager determine wether actual
operation are consistent with plans”.
Sementara itu, Robert J. Mocker
sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi
pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan, bahwa :
“Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar
pelaksanaan dengan tujuan – tujuan perencanaan, merancang sistem informasi
umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan
sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil
tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya
perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian
tujuan-tujuan perusahaan.”
Dengan demikian, pengawasan
merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan
dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi
tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan
bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.
Selanjutnya dikemukakan pula oleh T.
Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan, yaitu : (a)
penetapan standar pelaksanaan; (b) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan;
(c) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata; (d) pembandingan pelaksanaan
kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan; dan (e)
pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan.
Fungsi-fungsi manajemen ini berjalan
saling berinteraksi dan saling kait mengkait antara satu dengan lainnya,
sehingga menghasilkan apa yang disebut dengan proses manajemen. Dengan
demikian, proses manajemen sebenarnya merupakan proses interaksi antara
berbagai fungsi manajemen.
Dalam perspektif persekolahan, agar
tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka
proses manajemen pendidikan memiliki peranan yang amat vital. Karena bagaimana
pun sekolah merupakan suatu sistem yang di dalamnya melibatkan berbagai
komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola secara baik dan tertib.
Sekolah tanpa didukung proses manajemen yang baik, boleh jadi hanya akan
menghasilkan kesemrawutan lajunya organisasi, yang pada gilirannya tujuan
pendidikan pun tidak akan pernah tercapai secara semestinya.
Dengan demikian, setiap kegiatan
pendidikan di sekolah harus memiliki perencanaan yang jelas dan realisitis,
pengorganisasian yang efektif dan efisien, pengerahan dan pemotivasian seluruh
personil sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya, dan
pengawasan secara berkelanjutan.
E.
Unsur-unsur Manajemen Sekolah
Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas (1999) telah
menerbitkan buku Panduan Manajemen Sekolah, yang didalamnya mengetengahkan
bidang-bidang kegiatan manajemen pendidikan, meliputi: (1) manajemen kurikulum;
(2) manajemen personalia; (3) manajemen kesiswaan; (4) manajemen keuangan; (5)
manajemen perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah.
Dari beberapa pendapat di atas, agaknya yang perlu digarisbawahi
yaitu mengenai bidang administrasi pendidikan yang dikemukakan oleh Thomas J.
Sergiovani. Dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, pandangan Thomas J.
Sergiovani kiranya belum sepenuhnya dapat dilaksanakan, terutama dalam bidang
school transportation dan business management. Dengan alasan tertentu,
kebijakan umum pendidikan nasional belum dapat menjangkau ke arah sana. Kendati
demikian, dalam kerangka peningkatkan mutu pendidikan, ke depannya pemikiran
ini sangat menarik untuk diterapkan menjadi kebijakan pendidikan di Indonesia.
Merujuk kepada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum
Depdiknas dalam buku Panduan Manajemen Sekolah, berikut ini akan diuraikan
secara ringkas tentang bidang-bidang kegiatan pendidikan di sekolah, yang mencakup
:
1.
Manajemen
kurikulum
Manajemen kurikulum merupakan
subtansi manajemen yang utama di sekolah. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini
adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, dengan
tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan
terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya. Tahapan manajemen
kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap : (a) perencanaan; (b)
pengorganisasian dan koordinasi; (c) pelaksanaan; dan (d) pengendalian.
Dalam konteks Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), Tita Lestari (2006) mengemukakan tentang siklus
manajemen kurikulum yang terdiri dari empat tahap :
a.
Tahap
perencanaan;
meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis kebutuhan; (2) merumuskan dan
menjawab pertanyaan filosofis; (3) menentukan disain kurikulum; dan (4) membuat
rencana induk (master plan): pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian.
b.
Tahap pengembangan; meliputi langkah-langkah : (1)
perumusan rasional atau dasar pemikiran; (2) perumusan visi, misi, dan tujuan;
(3) penentuan struktur dan isi program; (4) pemilihan dan pengorganisasian
materi; (5) pengorganisasian kegiatan pembelajaran; (6) pemilihan sumber, alat,
dan sarana belajar; dan (7) penentuan cara mengukur hasil belajar.
c.
Tahap implementasi atau pelaksanaan; meliputi
langkah-langkah: (1) penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus, RPP:
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran); (2) penjabaran materi (kedalaman dan
keluasan); (3) penentuan strategi dan metode pembelajaran; (4) penyediaan
sumber, alat, dan sarana pembelajaran; (5) penentuan cara dan alat penilaian
proses dan hasil belajar; dan (6) setting lingkungan pembelajaran
d.
Tahap
penilaian; terutama
dilakukan untuk melihat sejauhmana kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan,
baik bentuk penilaian formatif maupun sumatif. Penilailain kurikulum dapat
mencakup Konteks, input, proses, produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan
pada pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan peluang.
Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem, strategi pencapaian tujuan,
implementasi design dan cost benefit dari rancangan. Penilaian proses memiliki
fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk pembuatan keputusan dalam
melaksanakan program. Penilaian product berfokus pada mengukur pencapaian
proses dan pada akhir program (identik dengan evaluasi sumatif)
2.
Manajemen
Kesiswaan
Dalam manajemen kesiswaan terdapat
empat prinsip dasar, yaitu : (a) siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan
bukan obyek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap
perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka; (b)
kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan
intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan
wahana kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk
berkembang secara optimal; (c) siswa hanya termotivasi belajar, jika mereka
menyenangi apa yang diajarkan; dan (d) pengembangan potensi siswa tidak hanya
menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif, dan psikomotor.
3.
Manajemen
personalia
Terdapat empat prinsip dasar
manajemen personalia yaitu : (a) dalam mengembangkan sekolah, sumber daya
manusia adalah komponen paling berharga; (b) sumber daya manusia akan berperan
secara optimal jika dikelola dengan baik, sehingga mendukung tujuan
institusional; (c) kultur dan suasana organisasi di sekolah, serta perilaku
manajerial sekolah sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan
sekolah; dan (d) manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan
agar setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan
sekolah.
Disamping faktor ketersediaan sumber
daya manusia, hal yang amat penting dalam manajamen personalia adalah berkenaan
penguasaan kompetensi dari para personil di sekolah. Oleh karena itu, upaya
pengembangan kompetensi dari setiap personil sekolah menjadi mutlak diperlukan.
4.
Manajemen
keuangan
Manajemen keuangan di sekolah
terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana, kiat sekolah dalam
mengelola dana, pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah,
cara mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan pengawasan,
pengendalian serta pemeriksaan.
Inti dari manajemen keuangan adalah
pencapaian efisiensi dan efektivitas. Oleh karena itu, disamping mengupayakan
ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan
rutin operasional di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan
transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah,
masyarakat dan sumber-sumber lainnya.
5.
Manajemen
perawatan preventif sarana dan prasana sekolah
Manajemen perawatan preventif sarana
dan prasana sekolah merupakan tindakan yang dilakukan secara periodik dan
terencana untuk merawat fasilitas fisik, seperti gedung, mebeler, dan peralatan
sekolah lainnya, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja, memperpanjang usia
pakai, menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana
dan pra sarana sekolah. Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan
preventif di sekolah dengan cara pembentukan tim pelaksana, membuat daftar
sarana dan pra saran, menyiapkan jadwal kegiatan perawatan, menyiapkan lembar
evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan
memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan
sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasarana
sekolah.
Sedangkan untuk pelaksanaannya
dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana, mengupayakan pemantauan bulanan ke
lokasi tempat sarana dan prasarana, menyebarluaskan informasi tentang program
perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah, dan membuat program lomba
perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/2014/10/makalah-manajemen-sekolah_3.html
http://digilib.unila.ac.id/1237/5/BAB%20II.pdf
http://digilib.unila.ac.id/8752/77/BAB%20II.pdf
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/03/konsep-manajemen-sekolah/
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/03/konsep-manajemen-sekolah/
http://belajarbersamax.blogspot.com/2015/05/manajemen-sisdiknas-dan-mbs.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar