Rabu, 18 November 2020

PERSEPSI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 

 

MAKALAH

KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ORGANISASI

 

PERSEPSI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 

Mata Kuliah

Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi

 

 

Disusun Oleh :

KELOMPOK 4

1.    Adi Wibowo                              NPM 19510108

2.    Endang Rahmawati                    NPM 19510114

3.    Herlina                                       NPM 19510116

4.    Nidhom                                      NPM 19510118

5.    Kuncoro Pujiwarto                     NPM 19510142

 

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIDIKAN PASCASARJANA

UNIVERSITAS PGRI SEMARANG

2019

 

MAKALAH

KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU ORGANISASI

 

PERSEPSI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 

Untuk memenuhi Persyaratan

Mata Kuliah Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi

 

 

Disusun Oleh :

KELOMPOK 4

6.    Adi Wibowo                              NPM 19510108

7.    Endang Rahmawati                    NPM 19510114

8.    Herlina                                       NPM 19510116

9.    Nidhom                                      NPM 19510118

10.      Kuncoro Pujiwarto                  NPM 19510142

 

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIDIKAN PASCASARJANA

UNIVERSITAS PGRI SEMARANG

2019

 

 

PRAKATA

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karunia kekuatan untuk menyelesaikan makalah ini, sebagai persyaratan mata kuliah Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi.

Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada berbagai pihak yang terkait dalam penyusunan makalah ini,yaitu kepada :

1.        Ibu Dr.Ngurah Ayu Nyoman M, M. Pd sebagai dosen pengampu mata kuliah kepemimpinan dan perilaku organisasi yang telah membimbing kami untuk menyelesaikan makalah ini.

2.        Sahabat-sahabat kami dalam satu kelompok, yang telah bekerja sama menyelesaikan makalah ini.

3.        Keluarga kami yang telah dengan rela memberi kami waktu dan kesempatan untuk menyelesaikam makalah ini.

Kami sadar sepenuhnya bahwa makalah yang kami susun masih banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar makalah kami ini mengalami peningkatan mutu dan kualitas. Selanjutnya makalah kami ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

 

 

 

                                                                    Kendal,   Desember  2019

Penulis

 

                                                                   

 


 

DAFTAR ISI

 

 

JUDUL          ...............................................................................................         i

PRAKATA     .............................................................................................        ii

DAFTAR ISI  .............................................................................................       iii

BAB 1 PENDAHULUAN 

A.    Latar Belakang        ...............................................................................        4

B.     Rumusan Masalah   ..............................................................................        5

C.     Tujuan                    ................................................................................        5

BAB 2 PEMBAHASAN     

A.    Persepsi                    ...............................................................                      5    

B.     Pengambilan Keputusan.......................................................................        5

C.     Hubungan Persepsi dengan Pengambilan Keputusan  .........................        7

BAB 3 SIMPULAN DAN SARAN

A.    Simpulan         ......................................................................................        8    

B.     Saran              .......................................................................................      13

DAFTAR PUSTAKA


 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Manusia dalam menjalani kehidupan tidak terlepas dari suatu masalah. Masalah yang harus dihadapi tiap manusia tidaklah sama satu sama lain. Ada yang mudah ada pula yang sukar. Terkadang dalam penyelesaian masalah manusia terkadang dihadapkan pada dua pilihan atau lebih. Disitu manusia diuji untuk menentukan atau mengambil keputusan. Demikian pula bagi seorang pemimpin setiap saat dan setiap waktu harus dihadapkan pada masalah dimana ia harus mengambil keputusan.

Dalam mengambil keputusan diperlukan suatu keterampilan dan pengetahuan dari seorang pemimpin agar keputusan yang diambil tepat dan tidak asal-asalan. Dalam pengambilan keputusan diperlukan suatu proses yang sering dikenal dengan istilah persepsi.

 

B.  Rumusan masalah

Berdasarkan uraian tersebut di atas, rumusan masalah sebagai berikut:

1.        Apa yang dimaksud dengan persepsi?

2.        Faktor apa saja yang mempengaruhi persepsi?

3.        Apa yang dimaksud dengan pengambilan keputusan?

4.        Bangaimana tahapan pengambilan keputusan?

5.        Apa faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan?

6.        Bagaimana teori-teori pengambilan keputusan?

7.        Apa hubungan antara persepsi dengan pengambilan keputusan ?

 

C.  Tujuan

1.      Mengetahui  yang dimaksud dengan persepsi

2.      Mengetahui  Faktor apa saja yang mempengaruhi persepsi

3.      Mengetahui  yang dimaksud dengan pengambilan keputusan

4.      Mengetahui tahapan pengambilan keputusan

5.      Mengetahui faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan

6.      Mengetahui teori-teori pengambilan keputusan

7.      Mengetahui hubungan antara persepsi dengan pengambilan keputusan

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Persepsi

1.    Pengertian Persepsi

Persepsi  adalah suatu proses dimana seseorang melakukan pemilihan, penerimaan, pengorganisasian, dan penginterpretasian atas informasi yang diterimanya dari lingkungan. Jadi persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan. Namun apa yang merupakan persepsi seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang objektif. Karena perilaku orang didasarkan pada persepsi mereka akan realitas, dan bukan pada realitas itu sendiri, maka persepsi sangat penting pula dipelajari dalam perilaku organisasi.

 

2.    Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

a.         Pelaku persepsi (Characteristics of the perceiver)

Pelaku persepsi adalah penafsiran seorang individu pada suatu objek yang dilihatnya akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadinya sendiri, diantaranya sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan. Kebutuhan atau motif yang tidak dipuaskan akan merangsang individu dan mempunyai pengaruh yang kuat pada persepsi mereka. Contoh-contoh seperti seorang tukang rias akan lebih memperhatikan kesempurnaan riasan orang daripada seorang tukang masak, seorang yang disibukkan dengan masalah pribadi akan sulit mencurahkan perhatian untuk orang lain, dls, menunjukkan bahwa kita dipengaruhi oleh kepentingan/minat kita. Sama halnya dengan ketertarikan kita untuk memperhatikan hal-hal baru, dan persepsi kita mengenai orang-orang tanpa memperdulikan ciri-ciri mereka yang sebenarnya.

b.         Target (Characteristics of the perceived)

Target adalah gerakan, bunyi, ukuran, dan atribut-atribut lain dari target akan membentuk cara kita memandangnya. Misalnya saja suatu gambar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang oleh orang yang berbeda. Selain itu, objek yang berdekatan akan dipersepsikan secara bersama-sama pula. Contohnya adalah kecelakaan dua kali dalam arena ice skating dalam seminggu dapat membuat kita mempersepsikan ice skating sebagai olah raga yang berbahaya. Contoh lainnya adalah suku atau jenis kelamin yang sama, cenderung dipersepsikan memiliki karakteristik yang sama atau serupa.

c.       Situasi ( Situation Context)

Situasi juga berpengaruh bagi persepsi kita. Misalnya saja, seorang wanita yang berparas lumayan mungkin tidak akan terlalu ‘terlihat’ oleh laki-laki bila ia berada di mall, namun jika ia berada dipasar, kemungkinannya sangat besar bahwa para lelaki akan memandangnya.

 

Tiap orang mempunyai persepsi sendiri-sendiri karena dipengaruhi oleh perbedaan kemampuan inderanya dalam menangkap stimulasi dan Perbedaan kemampuan dalam menafsirkan atau memberi arti pada stimulasi tersebut. Indera merupakan filter masuknya stimulasi dalam kognisinya, dan kemudian orang memberi perhatian terhadap stimulasi itu untuk diberi arti. Namun perhatian seseorang tidak dapat menyeluruh, melainkan hanya pada aspek tertentu saja yaitu yang dianggap penting bagi dirinya.

 

 

 

 

B.     Pengambilan Keputusan

1.         Pengertian Pengambilan Keputusan

Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal itu berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai ‘apa yang harus dilakukan’ dan seterusnya mengenai  perencanaan selanjutnya. Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH.  menyatakan bahwa keputusan ialah suatu pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah atau problema untuk menjawab suatu pertanyaan apa yang harus diperbuat guna untuk mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan sebuah pilihan pada suatu alternatif.Selanjutnya beberapa definisi tentang pengambilan keputusan, antara lain sebagai berikut. Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan ialah suatu pemilihan alternatif tingkah laku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Sedangkan S.P. Siagian menyatakan bahwa pengambilan keputusan ialah sebuah pendekatan yang sistematis terhadap sebuah hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil suatu tindakan yang menurut perhitungan adalah suatu tindakan yang paling tepat.

Selanjutnya menurut James A.F. Stoner  pengambilan keputusan ialah suatu proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan yang sebagai cara pemecahan masalah. Demikian pula menurut Kuswardani bahwa pengambilan keputusan ialah seorang individu yang tidak merasa puas dengan sebuah situasi yang ada atau dengan prospek situasi yang mendatang dan yang memiliki otoritas untuk berinisiatif dalam mengambil langkah untuk menanggulangi suatu keadaan tersebut.

Berdasarkan uraian di atas maka pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia.

 

 

2.         Tahap-tahap Pengambilan Keputusan

Menurut Herbert A. Simon (1960) mengajukan model yang menggambarkan proses pengambilan keputusan. Proses ini terdiri atas tiga fase, yaitu:

a.         Intelligence

Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses, dan diuji dalam rangka mengidentifikasikan masalah.

b.        Design

Tahap ini merupakan proses menemukan, mengembangkan, dan menganalisis alternatif tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi, dan menguji kelayakan solusi.

c.         Choice

Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan.

Sedangkan menurut Richardet., all. Proses pengambilan keputusan terdiri atas 6 tahap, yaitu sebagai berikut :

a.      Observasi

Tahap ini berupa (aktivitas proses) kunjungan lapangan, konprensi, observasi, dan riset yang dapat menjadi informasi dan data penunjang.

b.      Analisis dan Pengenalan Masalah

Tahap ini dapat berupa (aktivitas proses) penentuan penggunaan, penentuan tujuan, dan penentuan batasan-batasan yang dapat menjadi pedoman atau petunjuk yang jelas untuk mencari pemecahan yang dibutuhkan.

c.       Pengembangan Model

Tahap ini dapat berupa (aktivitas proses) peralatan pengambilan keputusan antar hubungan model matematik, riset yang dapat menjadi (output proses) model yang berfungsi di bawah batasan lingkungan yang telah ditetapkan.

d.      Memilih Data Masukan yang Sesuai

Tahap ini dapat berupa data internal dan eksternal, kenyataan, pendapat, serta data bank komputer yang dapat menjadi (output process) input yang memadai untuk mengerjakan dan menguji model yang digunakan.

e.       Perumusan dan Pengujian

Tahap ini berupa pengujian, batasan, dan pembuktian yang dapat menjadi pemecahan yang membantu pencapaian tujuan.

f.        Penerapan Pemecahan

Tahap ini berupa pembahasan perilaku, pelontaran ide, pelibatan manajemen, serta penjelasan yang menjadi pemahaman manajemen untuk menunjang model operasi dalam jangka yang lebih panjang.

 

3.         Dasar Pengambilan Keputusan

Sementara itu, George R. Terry menyebutkan 5 dasar  (basis) dalam pengambilan keputusan, yaitu: (1) intuisi;  (2) pengalaman; (3) fakta; (4) wewenang;  dan (5) rasional.

a.       Intuisi

Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan  yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif.  Dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi ini, meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek, tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif  kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya

b.      Pengalaman

Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang, maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan

c.       Wewenang

Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya, atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Hasil keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan memiliki otentisitas (otentik),  tetapi  dapat menimbulkan sifat rutinitas, mengasosiasikan dengan praktek diktatorial dan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan

d.      Fakta

Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta empiris dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada

e.       Rasional

Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal.

 

Pada pengambilan keputusan secara rasional terdapat beberapa hal sebagai berikut: a. Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah. b. Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai. c. Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya. d. Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria. e. Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik berdasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal

Menurut Elbing ada lima langkah dalam proses pengambilan keputusan:

a.       Identifikasi dan Diagnosa masalah.

b.      Pengumpulan dan Analisis data yang relevan.

c.       Pengembangan dan Evaluasi alternative alternatif.

d.      Pemilihan Alternatif terbaik.

e.       Implementasi keputusan dan Evaluasi terhadap hasil-hasil.

 

4.         Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menurut G. R. Terry (1989), yaitu :

a)        Hal-hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang emosional maupun yang rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.

b)        Setiap keputusan harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.

c)        Setiap keputusan jangan berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi harus lebih mementingkan kepentingan organisasi.

d)        Jarang sekali pilihan yang memuaskan, oleh karena itu buatlah altenatif-alternatif tandingan.

e)        Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental dari tindakan ini harus diubah menjadi tindakan fisik.

f)         Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama.

g)        Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

h)        Setiap keputusan hendaknya dilembagakan agar diketahui keputusan itu benar.

i)         Setiap keputusan merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan mata rantai berikutnya.

 

Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan.

a.         Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.

b.        Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.

c.         Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.

d.        Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.

e.         Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.

f.          Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah
laku tertentu.

 

Adapun dalam referensi lain pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor personal antara lain:

a.         Kognisi, artinya kualitas dan kuantitas pengetahuan yang di miliki. Misalnya ; Kemampuan menalar, memiliki kemampuan berfikir secara logis, dll.

b.        Motif, suatu keadaan tekanan dalam diri individu yang mempengaruhi, memelihara dan mengarahkan prilaku menuju suatu sasaran.

c.         Sikap, Bagaimana keberanian kita dalam mengambil risiko kepututusan, pemilihan suasana emosi dan waktu yang tepat, mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi.

 

Dari uraian di atas maka faktor-faktor yang dipengaruhi pengambilan keputusan antara lain: fisik, emosional, rasional, praktikal, interpersonal, struktural, kognisi, motif, sikap.

 

5.         Teori Pengambilan Keputusan

a.      Teori Rasional Komprehensif

Teori pengambilan keputusan yang biasa digunakan dan diterima oleh banyak kalangan adalah teori rasional komprehensif yang mempunyai beberapa unsur.

1)        Pembuatan keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu sama lain (dapat diurutkan menurut prioritas masalah).

2)        Tujuan-tujuan,  nilai-nilai atau sasaran yang menjadi pedoman pembuat keputusan sangat jelas dan dapat diurutkan prioritasnya/ kepentingannya.

3)        Bermacam-macam alternatif untuk memecahkan masalah diteliti secara saksama.

4)        Asas biaya manfaat atau sebab-akibat digunakan untuk menentukan prioritas.

5)        Setiap alternatif dan implikasi yang menyertainya dipakai untuk membandingkan dengan alternatif lain.

6)        Pembuat keputusan akan memilih alternatif terbaik untuk mencapai tujuan, nilai, dan sasaran yang ditetapkan.

 

Teori rasional komprehensif ini menuntut hal-hal yang tidak rasional dalam diri pengambil keputusan. Asumsinya adalah seorang pengambil keputusan memiliki cukup informasi mengenahi berbagai alternatif sehingga mampu meramalkan secara tepat akibat-akibat dari pilihan alternatif yang ada, serta memperhitungkan asas biaya manfaatnya.dan mempertimbangkan banyak masalah yang saling berkaitan. Pengambil keputusan sering kali memiliki konflik kepentingan antara nilai-nilai sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat. Karena teori ini mengasumsikan bahwa fakta-fakta dan nilai-nilai yang ada dapat dibedakan dengan mudah, akan tetapi kenyataannya sulit membedakan antara fakta dilapangan dengan nilai-nilai yang ada.

Ada beberapa masalah diperbagai negara berkembang seperti Indonesia untuk menerapkan teori rasional komprehensif ini karena beberapa alasan yaitu :

1)        Informasi dan data statistik yang ada tidak lengkap sehingga tidak bisa dipakai untuk dasar pengambilan keputusan. Kalau dipaksakan maka akan terjadi sebuah keputusan yang kurang tepat.

2)        Teori ini diambil/diteliti dengan latar belakang berbeda dengan nagara berkembang ekologi budanyanya berbeda.

3)        Birokrasi dinegara berkembang tidak bisa mendukung unsur-unsur rasional dalam pengambilan keputusan, karena dalam birokrasi negara berkembang kebanyakan korup sehingga menciptakan hal-hal yang tidak rasional.

 

b.      Teori Inkremental

Teori ini dalam mengambil keputusan dengan cara menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan dan merupakan madel yang sering ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambail keputusan. Teori ini memiliki pokok-pokok pikiran sebagai berikut:

1)        Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapanya merupakan hal yang saling terkait.

2)        Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa alternatif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah, dan alternatif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental atau marjinal.

3)        Setiap alternatif hanya sebagian kecil saja yang dievaluasi mengenahi sebab dan akibatnya.

4)        Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan di redifinisikan secara teratur dan memberikan kemungkinan untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana sehingga dampak dari masalah lebih dapat ditanggulangi.

5)        Tidak ada keputusan atau cara pemecahan masalah yang tepat bagi setiap masalah. Sehingga keputusan yang baik terletak pada berbagai analisis yang mendasari kesepakatan guna mengambil keputusan.

6)        Pembuatan keputusan inkremental ini sifatnya dalah memperbaiki atau melengkapi keputusan yang telah dibuat sebelumnya guna mendapatkan penyempurnaan.

 

Karena diambil berdasarkan berbagai analisis maka sangat tepat diterapkan bagi negara-negara yang memiliki struktur mejemuk. Keputusan dan kebijakan diambil dengan dasar saling percaya diantara berbagai pihak sehingga secara politis lebih aman. Kondisi yang realistik diberbagi negara bahwa dalam menagmbil keputusan/kebijakan para pengambil keputusan dihadapkan pada situasi kurang baik seperti kurang cukup waktu, kurang pengalaman, dan kurangnya sumber-sumber lain yang dipakai untuk analsis secara komprehensif.

Teori ini dapat dikatakan sebagai model pengambilan keputusan yang membuahkan hasil terbatas, praktis dan dapat diterima. Ada beberapa kelemahan dalam teori inkremental ini:

1.        Keputusan–keputusan yang diambil akan lebih mewakili atau mencerminkan kepentingan dari kelompok yang kuat dan mapan sehingga kepentingan kelompok lemah terabaikan.

2.        Keputusan diambil lebih ditekankan kepada keputusan jangka pendek dan tidak memperhatikan berbagai macam kebijakan lain 

3.        Dinegara berkembang teori ini tidak cocok karena perubahan yang inkremental tidak tepat karena negara berkembang lebih membutuhkan perubahan yang besar dan mendasar.

4.        Menutut Yehezkel Dror (1968) gaya inkremental dalam membuat keputusan cenderung mengahsilkan kelambanan dan terpeliharanya status quo.

 

c.       Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scaning Theory)

Beberapa kelemahan tersebut menjadi dasar konsep baru yaitu seperti yang dikemukakan oleh ahli sosiologi organisasi Aitai Etzioni yaitu pengamatan terpadu (Mixid Scaning) sebagai suatu pendektan untuk mengambil keputusan baik yang bersifat fundamental maupun inkremental. Keputusan-keputusan inkremental memberikan arahan dasar dan melapangkan jalan bagi keputusan-keputusan fundamental sesudah keputusan-keputusan itu tercapai.

Model pengamatan terpadu menurut Etzioni akan memungkinkan para pembuat keputusan menggunakan teori rasional komprehensif dan teori inkremental pada situasi yang berbeda-beda. Model pengamatan terpadu ini pada hakikatnya merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif dan model inkremental dalam proses pengambilan keputusan.

Dalam pengambilan suatu keputusan individu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian, dan kecenderungan dalam pengambilan resiko. Pertama, nilai individu pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang digunakan seseorang jika ia dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu keputusan. Nilai-nilai ini telah tertanam sejak kecil melalui suatu proses belajar dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak keadaan individu bahkan tidak berfikir untuk menyusun atau menilai keburukan dan lebih ditarik oleh kesempatan untuk menang. Kedua, kepribadian. Keputusan yang diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepribadian. Dua variabel utama kepribadian yang berpengaruh terhadap keputusan yang dibuat, seperti ideologi versus kekuasaan dan emosional versus obyektivitas. Beberapa pengambil keputusan memiliki suatu orientasi ideologi tertentu yang berarti keputusan dipengaruhi oleh suatu filosofi atau suatu perangkat prinsip tertentu. Sementara itu pengambil keputusan atau orang lain mendasarkan keputusannya pada suatu yang secara politis akan meningkatkan kekuasaannya secara pribadi. Ketiga, kecenderungan terhadap pengambilan resiko. Untuk meningkatkan kecakapan dalam membuat keputusan, perawat harus membedakan situasi ketidak pastian dari situasi resiko, karena keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut. Ketidakpastian adalah kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan resiko adalah kurangnya kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil keputusan memiliki pengetahuan hasil tindakan walaupun ia tidak dapat mengendalikannya. Lebih sulit membuat keputusan dibawah ketidakpastian dibanding dibawah kondisi bahaya. Di bawah ketidakpastian si pengambil keputusan tidak memiliki dasar rasional terhadap pilihan satu strategi atas strategi lainnya.

 

C.    Hubungan antara Persepsi dengan Pengambilan Keputusan

1.         Persepsi dan Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan individual, baik ditingkat bawah maupun atas, merupakan suatu bagian yang penting dari perilaku organisasi. Tetapi bagaimana individu dalam organisasi mengambil keputusan dan kualitas dari pilihan mereka sebagiah besar dipengaruhi oleh persepsi mereka. Pengambilan keputusan terjadi sebagai suatu reaksi terhadap suatu masalah. Terdapat suatu penyimpangan antara suatu keadaan dewasa ini dan sesuatu keadaan yang diinginkan, yang menuntut pertimbangan arah tindakan alternatif. Misalnya, seorang manager suatu divisi menilai penurunan penjualan sebesar 2% sangat tidak memuaskan, namun didivisi lain penurunan sebesar itu dianggap memuaskan oelh managernya.

Perlu diperhatikan bahwa setiap keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Karena itu, data yang diterima perlu disaring, diproses, dan ditafsirkan. Misalnya, data mana yang relevan dengan pengambilan keputusan. Persepsi dari pengambil keputusan akan ikut menentukan hal tersebut, yang akan mempunyai hubungan yang besar pada hasil akhirnya.

2.         Praktik Pengambilan Keputusan dalam Organisasi

1)        Rasionalitas Terbatas

Yaitu para individu mengambil keputusan dengan merancang bangun model-model yang disederhanakan yang menyuling cirri-ciri hakiki dari masalah tanpa menangkap semua kerumitannya. Aspek yng menarik dari rasionalitas terbatas ini adalah bahwa urutan di mana alternatif-alternatif dipertimbangkan bersifat kritis dalam menentukan alternatif mana yang dipilih.

2)        Intuisi

Pengambilan keputusan intuitif seperti yang digunakan oleh Joe Garcia baru-baru ini muncul dan disegani. Ada sejumlah cara untuk mengkonseptualkan  intuisi. Pengambilan keputusan secara intuitif sebagai suatu proses tak sadar yang dicipakan dari dalam pengalaman yang tersaring.

3)        Identifikasi Masalah

Masalah-msalah yang tampak cenderung memiliki probabilitas terpilih yang lebih tinggi dibanding masalah-masalah yang penting. Kita dapat menawarkan sekuarang-kurangnya 2 alasan. Pertama, mudah untuk mengenali masalah-masalah yang tampak. Kedua, perlu diingat bahwa kita prihatin dengan pengambilan keputusan dalam organisasi.

4)        Pengembangan Alternatif

Karena pengambil keputusan jarang mencari suatu pemecahan optimum, melainkan yang agak memuaskan, kami berharap untuk menemukan suatu penggunaan minimal atas kreativitas dalam mencari alternatif-alternatif.

5)        Membuat Pilihan

Untuk menghindari informasi yang terlalu sarat, para pengambil keputusan mengandalkan heuristik atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan. Terdapat dua macam heuristik yaitu :

a)        Heuristik ketersediaan, kecenderungan bagi orang-orang untuk mendasarkan penilain pada informasi yang sudah ada di tangan mereka.

b)        Heuristik representatif, menilai kemungkinan dari suatu kejadian dengan menarik analogi dan meliha situasi identik di mana sebenarnya tidak identik.

c)        Peningkatan komitmen, suatu peningkatan komitmen pada suatu keputusan sebelumnya meskipun ada informasi negatif.

 


 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.    KESIMPULAN

       Setiap keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Karena itu, data yang diterima perlu disaring, diproses, dan ditafsirkan. Misalnya, data mana yang relevan dengan pengambilan keputusan. Persepsi dari pengambil keputusan akan ikut menentukan hal tersebut, yang akan mempunyai hubungan yang besar pada hasil akhirnya.

 

B.     SARAN

       Seorang pemimpin harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Informasi dan pengetahuan serta wawasan yang luas sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan,agar keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat. Artinya tidak merugikan pihak manapun.

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Archives.Chapter 6: Persepsi & Pengambilan Keputusan.

https://econsydia.wordpress.com/perilaku-organisasi/chapter-6-persepsi-pengambilan-keputusan/.

Tanggal akses 2 Januari 2020.

https://tariecliple.wordpress.com/2012/11/06/persepsi-dan-pengambilan-keputusan/.

Tanggal akses 2 Januari 2020.

http://www.bppp-tegal.com/web/

Tanggal akses 3 Januari 2020.

https://www.seputarpengetahuan.co.id/2018/06/pengertian-pengambilan-keputusan-dasar-gaya-faktor-proses.html 

Tanggal akses 3 Januari 2020.

http://teknikkepemimpinan.blogspot.com/2013/03/teori-pengambilan-keputusan.html

Tanggal akses 4 Januari 2020.

https://www.gurupendidikan.co.id/teknik-pengambil-keputusan/

Tanggal akses 4 Januari 2020.

http://nurhidayah.staff.umy.ac.id/pengambilan-keputusan-teori-dan-praktek/

Tanggal akses 4 Januari 2020.

http://hendriansdiamond.blogspot.com/2012/01/choice-menurut-terry-1989-faktor-faktor.html

Tanggal akses 4 Januari 2020.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar