MAKALAH
KEPEMIMPINAN
DAN PERILAKU ORGANISASI
PERSEPSI
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Mata Kuliah
Kepemimpinan dan Perilaku
Organisasi
Disusun
Oleh :
KELOMPOK 4
1. Adi Wibowo NPM 19510108
2. Endang Rahmawati NPM
19510114
3. Herlina NPM 19510116
4. Nidhom NPM 19510118
5. Kuncoro Pujiwarto NPM
19510142
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN PENDIDIDIKAN PASCASARJANA
UNIVERSITAS
PGRI SEMARANG
2019
MAKALAH
KEPEMIMPINAN
DAN PERILAKU ORGANISASI
PERSEPSI
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Untuk memenuhi
Persyaratan
Mata Kuliah Kepemimpinan
dan Perilaku Organisasi
Disusun
Oleh :
KELOMPOK 4
6. Adi Wibowo NPM 19510108
7. Endang Rahmawati NPM
19510114
8. Herlina NPM 19510116
9. Nidhom NPM 19510118
10. Kuncoro Pujiwarto NPM
19510142
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN PENDIDIDIKAN PASCASARJANA
UNIVERSITAS
PGRI SEMARANG
2019
PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT, atas karunia kekuatan untuk menyelesaikan makalah ini,
sebagai persyaratan mata kuliah Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi.
Ucapan terimakasih kami sampaikan
kepada berbagai pihak yang terkait dalam penyusunan makalah ini,yaitu kepada :
1.
Ibu Dr.Ngurah Ayu Nyoman M, M. Pd
sebagai dosen pengampu mata kuliah kepemimpinan dan perilaku organisasi yang telah
membimbing kami untuk menyelesaikan makalah ini.
2.
Sahabat-sahabat kami dalam satu
kelompok, yang telah bekerja sama menyelesaikan makalah ini.
3.
Keluarga kami yang telah dengan
rela memberi kami waktu dan kesempatan untuk menyelesaikam makalah ini.
Kami sadar sepenuhnya bahwa
makalah yang kami susun masih banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar makalah kami ini mengalami
peningkatan mutu dan kualitas. Selanjutnya makalah kami ini dapat bermanfaat
bagi semua pembaca.
Kendal, Desember
2019
Penulis
DAFTAR
ISI
JUDUL ............................................................................................... i
PRAKATA ............................................................................................. ii
DAFTAR
ISI ............................................................................................. iii
BAB
1 PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ............................................................................... 4
B. Rumusan
Masalah .............................................................................. 5
C. Tujuan
................................................................................ 5
BAB
2 PEMBAHASAN
A. Persepsi ............................................................... 5
B. Pengambilan
Keputusan....................................................................... 5
C. Hubungan
Persepsi dengan Pengambilan Keputusan ......................... 7
BAB
3 SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ...................................................................................... 8
B. Saran ....................................................................................... 13
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Manusia dalam menjalani kehidupan tidak
terlepas dari suatu masalah. Masalah yang harus dihadapi tiap manusia tidaklah
sama satu sama lain. Ada yang mudah ada pula yang sukar. Terkadang dalam
penyelesaian masalah manusia terkadang dihadapkan pada dua pilihan atau lebih.
Disitu manusia diuji untuk menentukan atau mengambil keputusan. Demikian pula
bagi seorang pemimpin setiap saat dan setiap waktu harus dihadapkan pada
masalah dimana ia harus mengambil keputusan.
Dalam mengambil keputusan diperlukan suatu
keterampilan dan pengetahuan dari seorang pemimpin agar keputusan yang diambil
tepat dan tidak asal-asalan. Dalam pengambilan keputusan diperlukan suatu
proses yang sering dikenal dengan istilah persepsi.
B.
Rumusan
masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas,
rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud dengan
persepsi?
2.
Faktor apa saja yang
mempengaruhi persepsi?
3.
Apa yang dimaksud dengan
pengambilan keputusan?
4.
Bangaimana tahapan
pengambilan keputusan?
5.
Apa faktor yang
mempengaruhi pengambilan keputusan?
6.
Bagaimana teori-teori
pengambilan keputusan?
7.
Apa hubungan antara
persepsi dengan pengambilan keputusan ?
C.
Tujuan
1. Mengetahui
yang dimaksud dengan persepsi
2. Mengetahui Faktor apa saja yang mempengaruhi persepsi
3. Mengetahui
yang dimaksud dengan pengambilan
keputusan
4. Mengetahui
tahapan pengambilan keputusan
5. Mengetahui
faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
6. Mengetahui
teori-teori pengambilan keputusan
7. Mengetahui
hubungan antara persepsi dengan pengambilan keputusan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Persepsi
1.
Pengertian
Persepsi
Persepsi adalah suatu proses dimana seseorang
melakukan pemilihan, penerimaan, pengorganisasian, dan penginterpretasian atas
informasi yang diterimanya dari lingkungan. Jadi persepsi merupakan suatu
proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang
lingkungannya. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses
yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan
indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan. Namun apa yang merupakan
persepsi seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang objektif. Karena perilaku
orang didasarkan pada persepsi mereka akan realitas, dan bukan pada realitas
itu sendiri, maka persepsi sangat penting pula dipelajari dalam perilaku
organisasi.
2.
Faktor
yang Mempengaruhi Persepsi
a.
Pelaku persepsi
(Characteristics of the perceiver)
Pelaku
persepsi adalah penafsiran seorang individu pada suatu objek yang dilihatnya
akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadinya sendiri, diantaranya
sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan.
Kebutuhan atau motif yang tidak dipuaskan akan merangsang individu dan
mempunyai pengaruh yang kuat pada persepsi mereka. Contoh-contoh seperti
seorang tukang rias akan lebih memperhatikan kesempurnaan riasan orang daripada
seorang tukang masak, seorang yang disibukkan dengan masalah pribadi akan sulit
mencurahkan perhatian untuk orang lain, dls, menunjukkan bahwa kita dipengaruhi
oleh kepentingan/minat kita. Sama halnya dengan ketertarikan kita untuk
memperhatikan hal-hal baru, dan persepsi kita mengenai orang-orang tanpa
memperdulikan ciri-ciri mereka yang sebenarnya.
b.
Target (Characteristics
of the perceived)
Target
adalah gerakan, bunyi, ukuran, dan atribut-atribut lain dari target akan
membentuk cara kita memandangnya. Misalnya saja suatu gambar dapat dilihat dari
berbagai sudut pandang oleh orang yang berbeda. Selain itu, objek yang
berdekatan akan dipersepsikan secara bersama-sama pula. Contohnya adalah
kecelakaan dua kali dalam arena ice skating dalam seminggu dapat membuat kita
mempersepsikan ice skating sebagai olah raga yang berbahaya. Contoh lainnya
adalah suku atau jenis kelamin yang sama, cenderung dipersepsikan memiliki
karakteristik yang sama atau serupa.
c.
Situasi ( Situation
Context)
Situasi
juga berpengaruh bagi persepsi kita. Misalnya saja, seorang wanita yang
berparas lumayan mungkin tidak akan terlalu ‘terlihat’ oleh laki-laki bila ia
berada di mall, namun jika ia berada dipasar, kemungkinannya sangat besar bahwa
para lelaki akan memandangnya.
Tiap orang mempunyai persepsi
sendiri-sendiri karena dipengaruhi oleh perbedaan kemampuan inderanya dalam
menangkap stimulasi dan Perbedaan kemampuan dalam menafsirkan atau memberi arti
pada stimulasi tersebut. Indera merupakan filter masuknya stimulasi dalam
kognisinya, dan kemudian orang memberi perhatian terhadap stimulasi itu untuk
diberi arti. Namun perhatian seseorang tidak dapat menyeluruh, melainkan hanya
pada aspek tertentu saja yaitu yang dianggap penting bagi dirinya.
B.
Pengambilan
Keputusan
1.
Pengertian Pengambilan Keputusan
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang
dihadapinya dengan tegas. Hal itu berkaitan dengan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan mengenai ‘apa yang harus dilakukan’ dan seterusnya
mengenai perencanaan selanjutnya. Menurut
Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH. menyatakan bahwa keputusan ialah suatu
pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah atau problema untuk
menjawab suatu pertanyaan apa yang harus diperbuat guna untuk mengatasi masalah
tersebut, dengan menjatuhkan sebuah pilihan pada suatu alternatif.Selanjutnya beberapa definisi tentang pengambilan
keputusan, antara lain sebagai berikut. Menurut George R.
Terry, pengambilan keputusan ialah suatu pemilihan alternatif tingkah
laku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
Sedangkan S.P. Siagian menyatakan bahwa pengambilan keputusan ialah sebuah pendekatan
yang sistematis terhadap sebuah hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil
suatu tindakan yang menurut perhitungan adalah suatu tindakan yang paling
tepat.
Selanjutnya
menurut James A.F. Stoner pengambilan keputusan ialah suatu proses
yang digunakan untuk memilih suatu tindakan yang sebagai cara pemecahan
masalah. Demikian pula menurut Kuswardani bahwa pengambilan keputusan
ialah seorang individu yang tidak merasa puas dengan sebuah situasi yang
ada atau dengan prospek situasi yang mendatang dan yang memiliki otoritas untuk
berinisiatif dalam mengambil langkah untuk menanggulangi suatu keadaan
tersebut.
Berdasarkan uraian di
atas maka pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di
antara beberapa alternatif yang tersedia.
2.
Tahap-tahap Pengambilan Keputusan
Menurut Herbert A. Simon (1960) mengajukan model yang menggambarkan proses
pengambilan keputusan. Proses ini terdiri atas tiga fase, yaitu:
a.
Intelligence
Tahap
ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika
serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses, dan diuji
dalam rangka mengidentifikasikan masalah.
b.
Design
Tahap
ini merupakan proses menemukan, mengembangkan, dan menganalisis alternatif
tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk mengerti masalah,
menurunkan solusi, dan menguji kelayakan solusi.
c.
Choice
Pada
tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang
mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian diimplementasikan dalam
proses pengambilan keputusan.
Sedangkan menurut Richard, et.,
all. Proses pengambilan keputusan terdiri atas 6 tahap, yaitu sebagai
berikut :
a. Observasi
Tahap
ini berupa (aktivitas proses) kunjungan lapangan, konprensi, observasi, dan
riset yang dapat menjadi informasi dan data penunjang.
b. Analisis dan Pengenalan Masalah
Tahap
ini dapat berupa (aktivitas proses) penentuan penggunaan, penentuan tujuan, dan
penentuan batasan-batasan yang dapat menjadi pedoman atau petunjuk yang jelas
untuk mencari pemecahan yang dibutuhkan.
c. Pengembangan Model
Tahap
ini dapat berupa (aktivitas proses) peralatan pengambilan keputusan antar
hubungan model matematik, riset yang dapat menjadi (output proses) model yang
berfungsi di bawah batasan lingkungan yang telah ditetapkan.
d. Memilih Data Masukan yang Sesuai
Tahap
ini dapat berupa data internal dan eksternal, kenyataan, pendapat, serta data
bank komputer yang dapat menjadi (output process) input yang memadai
untuk mengerjakan dan menguji model yang digunakan.
e. Perumusan dan Pengujian
Tahap
ini berupa pengujian, batasan, dan pembuktian yang dapat menjadi pemecahan yang
membantu pencapaian tujuan.
f.
Penerapan
Pemecahan
Tahap
ini berupa pembahasan perilaku, pelontaran ide, pelibatan manajemen, serta
penjelasan yang menjadi pemahaman manajemen untuk menunjang model operasi dalam
jangka yang lebih panjang.
3.
Dasar Pengambilan Keputusan
Sementara itu, George R. Terry menyebutkan 5 dasar (basis) dalam pengambilan
keputusan, yaitu: (1) intuisi; (2) pengalaman; (3) fakta; (4) wewenang;
dan (5) rasional.
a.
Intuisi
Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan yang berdasarkan
perasaan yang sifatnya subyektif. Dalam pengambilan keputusan berdasarkan
intusi ini, meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif
pendek, tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif kurang baik
karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya
b.
Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena
dengan pengalaman yang dimiliki seseorang, maka dapat memperkirakan keadaan
sesuatu, dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang
akan dihasilkan
c.
Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap
bawahannya, atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang
lebih rendah kedudukannya. Hasil keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu
yang cukup lama dan memiliki otentisitas (otentik), tetapi
dapat menimbulkan sifat rutinitas, mengasosiasikan dengan praktek
diktatorial dan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan
sehingga dapat menimbulkan kekaburan
d.
Fakta
Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta
empiris dapat
memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, tingkat
kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang
dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada
e.
Rasional
Pada
pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio, keputusan yang dihasilkan
bersifat objektif, logis, lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan
hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan
mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pengambilan
keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal.
Pada pengambilan keputusan secara rasional terdapat
beberapa hal sebagai berikut: a. Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan
kekaburan masalah. b. Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.
c. Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan
konsekuensinya. d. Preferensi yang jelas:
alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria. e. Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik
berdasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal
Menurut Elbing ada lima langkah dalam
proses pengambilan keputusan:
a.
Identifikasi
dan Diagnosa masalah.
b.
Pengumpulan
dan Analisis data yang relevan.
c.
Pengembangan
dan Evaluasi alternative alternatif.
d.
Pemilihan
Alternatif terbaik.
e.
Implementasi
keputusan dan Evaluasi terhadap hasil-hasil.
4.
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan
Faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menurut G. R. Terry (1989), yaitu
:
a)
Hal-hal yang berwujud
maupun yang tidak berwujud, yang emosional maupun yang rasional perlu
diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
b)
Setiap keputusan harus
dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.
c)
Setiap keputusan
jangan berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi harus lebih mementingkan
kepentingan organisasi.
d)
Jarang sekali pilihan
yang memuaskan, oleh karena itu buatlah altenatif-alternatif tandingan.
e)
Pengambilan keputusan
merupakan tindakan mental dari tindakan ini harus diubah menjadi tindakan
fisik.
f)
Pengambilan keputusan
yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama.
g)
Diperlukan pengambilan
keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
h)
Setiap keputusan
hendaknya dilembagakan agar diketahui keputusan itu benar.
i)
Setiap keputusan
merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan mata rantai berikutnya.
Kemudian terdapat enam
faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan.
a.
Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau
kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa
tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
b.
Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi
secara subjective.
c.
Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi
dan berbagai konsekuensinya.
d.
Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang
akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam
bertindak.
e.
Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang
keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
f.
Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin
memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
Adapun dalam referensi lain
pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor personal antara lain:
a.
Kognisi, artinya kualitas dan kuantitas pengetahuan yang di miliki.
Misalnya ; Kemampuan menalar, memiliki kemampuan berfikir secara logis, dll.
b.
Motif, suatu keadaan tekanan dalam diri individu yang mempengaruhi,
memelihara dan mengarahkan prilaku menuju suatu sasaran.
c.
Sikap, Bagaimana keberanian kita dalam mengambil risiko kepututusan,
pemilihan suasana emosi dan waktu yang tepat, mempertimbangkan konsekuensi yang
mungkin terjadi.
Dari uraian di atas maka
faktor-faktor yang dipengaruhi pengambilan keputusan antara lain: fisik, emosional, rasional, praktikal, interpersonal,
struktural, kognisi, motif,
sikap.
5.
Teori
Pengambilan Keputusan
a.
Teori Rasional
Komprehensif
Teori pengambilan keputusan yang biasa digunakan dan diterima oleh banyak
kalangan adalah teori rasional komprehensif yang mempunyai beberapa unsur.
1)
Pembuatan keputusan
dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari
masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat
diperbandingkan satu sama lain (dapat diurutkan menurut prioritas masalah).
2)
Tujuan-tujuan, nilai-nilai atau sasaran yang menjadi pedoman
pembuat keputusan sangat jelas dan dapat diurutkan prioritasnya/ kepentingannya.
3)
Bermacam-macam
alternatif untuk memecahkan masalah diteliti secara saksama.
4)
Asas biaya manfaat atau
sebab-akibat digunakan untuk menentukan prioritas.
5)
Setiap alternatif dan implikasi
yang menyertainya dipakai untuk membandingkan dengan alternatif lain.
6)
Pembuat keputusan akan
memilih alternatif terbaik untuk mencapai tujuan, nilai, dan sasaran yang
ditetapkan.
Teori rasional komprehensif ini menuntut hal-hal yang tidak rasional dalam
diri pengambil keputusan. Asumsinya adalah seorang pengambil keputusan memiliki
cukup informasi mengenahi berbagai alternatif sehingga mampu meramalkan secara
tepat akibat-akibat dari pilihan alternatif yang ada, serta memperhitungkan
asas biaya manfaatnya.dan mempertimbangkan banyak masalah yang saling berkaitan.
Pengambil keputusan sering kali memiliki konflik kepentingan antara nilai-nilai
sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat. Karena teori ini
mengasumsikan bahwa fakta-fakta dan nilai-nilai yang ada dapat dibedakan dengan mudah, akan
tetapi kenyataannya sulit membedakan antara fakta dilapangan dengan nilai-nilai
yang ada.
Ada beberapa masalah diperbagai negara berkembang seperti Indonesia untuk
menerapkan teori rasional komprehensif ini karena beberapa alasan yaitu :
1)
Informasi dan data
statistik yang ada tidak lengkap sehingga tidak bisa dipakai untuk dasar
pengambilan keputusan. Kalau dipaksakan maka akan terjadi sebuah keputusan yang
kurang tepat.
2)
Teori ini diambil/diteliti
dengan latar belakang berbeda dengan nagara berkembang ekologi budanyanya
berbeda.
3)
Birokrasi dinegara
berkembang tidak bisa mendukung unsur-unsur rasional dalam pengambilan
keputusan, karena dalam birokrasi negara berkembang kebanyakan korup sehingga menciptakan
hal-hal yang tidak rasional.
b.
Teori Inkremental
Teori ini dalam mengambil keputusan dengan cara menghindari banyak masalah
yang harus dipertimbangkan dan merupakan madel yang sering ditempuh oleh
pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambail keputusan. Teori ini memiliki
pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
1)
Pemilihan tujuan atau
sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapanya
merupakan hal yang saling terkait.
2)
Pembuat keputusan
dianggap hanya mempertimbangkan beberapa alternatif yang langsung berhubungan
dengan pokok masalah, dan alternatif-alternatif ini hanya dipandang berbeda
secara inkremental atau marjinal.
3)
Setiap alternatif hanya
sebagian kecil saja yang dievaluasi mengenahi sebab dan akibatnya.
4)
Masalah yang dihadapi
oleh pembuat keputusan di redifinisikan secara teratur dan
memberikan kemungkinan untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan
sarana sehingga dampak dari masalah lebih dapat ditanggulangi.
5)
Tidak ada keputusan atau
cara pemecahan masalah yang tepat bagi setiap masalah. Sehingga keputusan yang
baik terletak pada berbagai analisis yang mendasari kesepakatan guna mengambil
keputusan.
6)
Pembuatan keputusan
inkremental ini sifatnya dalah memperbaiki atau melengkapi keputusan yang telah
dibuat sebelumnya guna mendapatkan penyempurnaan.
Karena diambil berdasarkan berbagai analisis maka sangat tepat diterapkan
bagi negara-negara yang memiliki struktur mejemuk. Keputusan dan kebijakan
diambil dengan dasar saling percaya diantara berbagai pihak sehingga secara
politis lebih aman. Kondisi yang realistik diberbagi negara bahwa dalam
menagmbil keputusan/kebijakan para pengambil keputusan dihadapkan pada situasi
kurang baik seperti kurang cukup waktu, kurang pengalaman, dan kurangnya
sumber-sumber lain yang dipakai untuk analsis secara komprehensif.
Teori ini dapat dikatakan sebagai model pengambilan keputusan yang
membuahkan hasil terbatas, praktis dan dapat diterima. Ada beberapa kelemahan
dalam teori inkremental ini:
1.
Keputusan–keputusan yang diambil akan lebih mewakili atau mencerminkan
kepentingan dari kelompok yang kuat dan mapan sehingga kepentingan kelompok
lemah terabaikan.
2.
Keputusan diambil lebih
ditekankan kepada keputusan jangka pendek dan tidak memperhatikan berbagai
macam kebijakan lain
3.
Dinegara berkembang
teori ini tidak cocok karena perubahan yang inkremental tidak tepat karena
negara berkembang lebih membutuhkan perubahan yang besar dan mendasar.
4.
Menutut Yehezkel Dror
(1968) gaya inkremental dalam membuat keputusan cenderung mengahsilkan kelambanan
dan terpeliharanya status quo.
c.
Teori Pengamatan Terpadu
(Mixed Scaning Theory)
Beberapa kelemahan tersebut menjadi dasar konsep baru yaitu seperti yang
dikemukakan oleh ahli sosiologi organisasi Aitai Etzioni yaitu pengamatan
terpadu (Mixid Scaning) sebagai suatu pendektan untuk mengambil keputusan baik
yang bersifat fundamental maupun inkremental. Keputusan-keputusan inkremental
memberikan arahan dasar dan melapangkan jalan bagi keputusan-keputusan
fundamental sesudah keputusan-keputusan itu tercapai.
Model pengamatan terpadu menurut Etzioni akan memungkinkan para pembuat
keputusan menggunakan teori rasional komprehensif dan teori inkremental pada
situasi yang berbeda-beda. Model pengamatan terpadu ini pada hakikatnya
merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional
komprehensif dan model inkremental dalam proses pengambilan keputusan.
Dalam pengambilan suatu keputusan individu
dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian, dan
kecenderungan dalam pengambilan resiko. Pertama,
nilai individu pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang digunakan
seseorang jika ia dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu
keputusan. Nilai-nilai ini telah tertanam sejak kecil melalui suatu proses
belajar dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak keadaan individu
bahkan tidak berfikir untuk menyusun atau menilai keburukan dan lebih ditarik
oleh kesempatan untuk menang. Kedua, kepribadian. Keputusan yang diambil seseorang juga
dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepribadian. Dua variabel utama
kepribadian yang berpengaruh terhadap keputusan yang dibuat, seperti ideologi
versus kekuasaan dan emosional versus obyektivitas. Beberapa pengambil
keputusan memiliki suatu orientasi ideologi tertentu yang berarti keputusan
dipengaruhi oleh suatu filosofi atau suatu perangkat prinsip tertentu.
Sementara itu pengambil keputusan atau orang lain mendasarkan keputusannya pada
suatu yang secara politis akan meningkatkan kekuasaannya secara pribadi. Ketiga, kecenderungan terhadap
pengambilan resiko. Untuk meningkatkan kecakapan dalam membuat keputusan,
perawat harus membedakan situasi ketidak pastian dari situasi resiko, karena
keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut. Ketidakpastian
adalah kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan resiko adalah kurangnya
kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil keputusan
memiliki pengetahuan hasil tindakan walaupun ia tidak dapat mengendalikannya.
Lebih sulit membuat keputusan dibawah ketidakpastian dibanding dibawah kondisi
bahaya. Di bawah ketidakpastian si pengambil keputusan tidak memiliki dasar
rasional terhadap pilihan satu strategi atas strategi lainnya.
C.
Hubungan antara Persepsi dengan
Pengambilan Keputusan
1.
Persepsi dan Pengambilan
Keputusan
Pengambilan
keputusan individual, baik ditingkat bawah maupun atas, merupakan suatu bagian
yang penting dari perilaku organisasi. Tetapi bagaimana individu dalam
organisasi mengambil keputusan dan kualitas dari pilihan mereka sebagiah besar
dipengaruhi oleh persepsi mereka. Pengambilan keputusan terjadi sebagai suatu
reaksi terhadap suatu masalah. Terdapat suatu penyimpangan antara suatu keadaan
dewasa ini dan sesuatu keadaan yang diinginkan, yang menuntut pertimbangan arah
tindakan alternatif. Misalnya, seorang manager suatu divisi menilai penurunan
penjualan sebesar 2% sangat tidak memuaskan, namun didivisi lain penurunan
sebesar itu dianggap memuaskan oelh managernya.
Perlu
diperhatikan bahwa setiap keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap
informasi. Karena itu, data yang diterima perlu disaring, diproses, dan
ditafsirkan. Misalnya, data mana yang relevan dengan pengambilan keputusan.
Persepsi dari pengambil keputusan akan ikut menentukan hal tersebut, yang akan
mempunyai hubungan yang besar pada hasil akhirnya.
2.
Praktik
Pengambilan Keputusan dalam Organisasi
1)
Rasionalitas Terbatas
Yaitu para individu mengambil
keputusan dengan merancang bangun model-model yang disederhanakan yang
menyuling cirri-ciri hakiki dari masalah tanpa menangkap semua kerumitannya.
Aspek yng menarik dari rasionalitas terbatas ini adalah bahwa urutan di mana
alternatif-alternatif dipertimbangkan bersifat kritis dalam menentukan
alternatif mana yang dipilih.
2)
Intuisi
Pengambilan keputusan
intuitif seperti yang digunakan oleh Joe Garcia baru-baru ini muncul dan
disegani. Ada sejumlah cara untuk mengkonseptualkan intuisi. Pengambilan keputusan secara
intuitif sebagai suatu proses tak sadar yang dicipakan dari dalam pengalaman
yang tersaring.
3)
Identifikasi Masalah
Masalah-msalah yang
tampak cenderung memiliki probabilitas terpilih yang lebih tinggi dibanding
masalah-masalah yang penting. Kita dapat menawarkan sekuarang-kurangnya 2
alasan. Pertama, mudah untuk mengenali masalah-masalah yang tampak. Kedua,
perlu diingat bahwa kita prihatin dengan pengambilan keputusan dalam
organisasi.
4)
Pengembangan Alternatif
Karena pengambil
keputusan jarang mencari suatu pemecahan optimum, melainkan yang agak
memuaskan, kami berharap untuk menemukan suatu penggunaan minimal atas
kreativitas dalam mencari alternatif-alternatif.
5)
Membuat Pilihan
Untuk menghindari
informasi yang terlalu sarat, para pengambil keputusan mengandalkan heuristik
atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan. Terdapat dua macam
heuristik yaitu :
a)
Heuristik ketersediaan,
kecenderungan bagi orang-orang untuk mendasarkan penilain pada informasi yang
sudah ada di tangan mereka.
b)
Heuristik representatif,
menilai kemungkinan dari suatu kejadian dengan menarik analogi dan meliha
situasi identik di mana sebenarnya tidak identik.
c)
Peningkatan komitmen,
suatu peningkatan komitmen pada suatu keputusan sebelumnya meskipun ada
informasi negatif.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
KESIMPULAN
Setiap
keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Karena itu, data
yang diterima perlu disaring, diproses, dan ditafsirkan. Misalnya, data mana
yang relevan dengan pengambilan keputusan. Persepsi dari pengambil keputusan
akan ikut menentukan hal tersebut, yang akan mempunyai hubungan yang besar pada
hasil akhirnya.
B.
SARAN
Seorang
pemimpin harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Informasi dan
pengetahuan serta wawasan yang luas sangat diperlukan dalam pengambilan
keputusan,agar keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat. Artinya
tidak merugikan pihak manapun.
DAFTAR PUSTAKA
Archives.Chapter
6: Persepsi & Pengambilan Keputusan.
https://econsydia.wordpress.com/perilaku-organisasi/chapter-6-persepsi-pengambilan-keputusan/.
Tanggal akses 2
Januari 2020.
https://tariecliple.wordpress.com/2012/11/06/persepsi-dan-pengambilan-keputusan/.
Tanggal akses 2 Januari 2020.
http://www.bppp-tegal.com/web/
Tanggal akses 3 Januari 2020.
Tanggal akses 3
Januari 2020.
http://teknikkepemimpinan.blogspot.com/2013/03/teori-pengambilan-keputusan.html
Tanggal
akses 4 Januari 2020.
https://www.gurupendidikan.co.id/teknik-pengambil-keputusan/
Tanggal akses 4
Januari 2020.
http://nurhidayah.staff.umy.ac.id/pengambilan-keputusan-teori-dan-praktek/
Tanggal akses 4
Januari 2020.
http://hendriansdiamond.blogspot.com/2012/01/choice-menurut-terry-1989-faktor-faktor.html
Tanggal akses 4
Januari 2020.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar